Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Jokowi: Kita butuh training SDM secara besar-besaran

Jokowi: Kita butuh training SDM secara besar-besaran Jokowi. ©2016 merdeka.com/idris

Merdeka.com - Presiden Joko Widodo mengingatkan agar pelatihan vokasional (vokational training) Sumber Daya Manusia (SDM) terus dioptimalkan. Hal ini bisa dilakukan dengan kerja sama antara pemerintah dan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia.

"Pemerintah dan Kadin sudah kerja sama. Tapi saya minta jumlah besar-besaran. Saya sudah dapat angka dari pak Rosan (Ketua Kadin) dan Menko (Menko Kooordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution), angkanya masih jauh yang diharapkan. Karena dibutuhkan sebuah training besar-besaran bukan hanya ribuan tapi jutaan. Ini yang hrus kita kerjakan," kata Jokowi saat membuka Rapat Pimpinan Nasional Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Tahun 2016 di Hotel Borobudur, Jalan Lapangan Banteng Selatan, Jakarta Pusat, Kamis (1/12).

Mantan Gubernur DKI Jakarta ini mengucapkan, saat ini para investor mulai membangun berbagai kantor hingga hotel di Tanah Air. Dengan adanya lahan pekerjaan baru itu, tentu Indonesia membutuhkan tenaga kerja profesional yang sudah dibentuk dari pelatihan vokasional.

"Kalau investor banyak bangun kawasan wisata, hotel, resort, cottage, akan butuh tenaga terampil banyak seperti juru masak, housekeeping," ujar dia.

Selain itu, Jokowi juga meminta agar Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto dan Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita terus melakukan koordinasi dengan Kadin untuk memperoleh fasilitas pendukung pelatihan vokasional. Kadin dianggap lembaga yang memayungi semua asosiasi yang ada di Tanah Air.

"Jadi di sini yang sangat berperan kita harapkan Kadin. Karena masuk akal, memang harusnya yang paling tahu kebutuhan swasta ya swasta sendiri. Bukan regulator," ucapnya.

Lebih lanjut, Jokowi juga menyinggung soal minimnya guru profesional yang dibentuk dari pelatihan vokasional. Saat ini, kata dia, sekolah-sekolah kejuruan malah lebih didominasi guru-guru normatif.

"SMK kita 70 persen gurunya normatif bukan guru yang memiliki skill training. Guru normatif misalnya guru PPKN, Matematika, fisika. Padahal yang dibutuhkan di SMK kita adalah training yang sebanyaknya. Ini yang kita ubah guru normatif akan kita training," pungkas dia.

(mdk/idr)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP