Jokowi Harap Nasabah Mekaar di Cilegon Disiplin Bayar Cicilan
Merdeka.com - Presiden Joko Widodo (Jokowi) meninjau program pembinaan ekonomi keluarga sejahtera (Mekaar) binaan Permodalan Nasional Madani (PNM) di Alun-Alun Cilegon, Banten. Dia berharap, ibu-ibu yang mendapatkan bantuan dari Mekaar dapat gunakan sebaik mungkin, serta disiplin dalam mengangsur.
"Saya titip kalau sudah dipercaya lebih hati-hati. Kalau orang sudah tidak dipercaya sulit sekali. Pertama disiplin dalam mengangsur. Misalnya ngangsurnya Rabu-Kamis, Jumatnya buat ditabung. Kalau bilang Senin, Seninnya harus ada (untuk dicicil). Kalau dikumpulkan bayar angsuran tepat waktu. Harus disiplin," kata Jokowi di Alun-Alun Cilegon, Banten, Jumat (6/12).
Dia meminta, jangan sampai uang modal digunakan untuk belanja di mall, sehingga menyebabkan sulitnya membayar angsuran. Sebab itu, dia berharap para ibu-ibu dapat menggunakan modal dari Mekaar untuk kehidupan dan modal kerja. Jika dapat keuntungan Jokowi berpesan agar ditabung.
"Ada Rp 2 juta pas ke mall, belok-belok. Coba-coba waduh kok tambah cantik Rp 100.000. Lalu nengok lagi ada lipstik tambah lagi ditawarin yang jual. Akhirnya Rp 200.000. Itu akan memperberat dalam mengangsur," cerita Jokowi.
"Nabung itu penting. Suami kerja ya, kalau ada tambahan dari ibu-ibu juga dapat menambah ketahanan ekonomi kita," jelas Jokowi.
Layani 5,8 Juta Nasabah Perempuan
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comPT Permodalan Nasional Madani (Persero) atau PNM telah melayani sebanyak 5.808.081 juta nasabah Mekaar (Membina Ekonomi Keluarga Sejahtera) per 21 November 2019. Nasabah yang dilayani PNM Mekaar merupakan perempuan pra sejahtera pelaku usaha mikro.
Direktur utama PNM, Arief Mulyadi menyebutkan pinjaman yang diberikan untuk nasabah Mekaar adalah Rp2 juta hingga Rp5 juta. Sementara itu untuk plafon Rp7-10 juta diberikan untuk nasabah Mekaar Plus yang baru berjalan 3 bulan terakhir ini.
"Karena kami punya pertimbangan bahwa para ibu ini punya kemampuan produktif untuk berusaha, cuma mereka sangat sulit mengakses lembaga-lembaga keuangan yang pada akhirnya mereka berhadapan dengan bank ucek-ucek, kan kasian," kata dia dalam sebuah acara diskusi di Gedung Kementerian BUMN, Jakarta, Jumat (22/11).
Selain itu, usaha para ibu-ibu selalu berorientasi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarga. Sebab mereka tidak mempunyai akses untuk bekerja di perusahaan sehingga harus memiliki usaha sendiri meskipun kecil-kecilan.
"Mau kerja tidak punya ijazah, jadi mereka terpaksa berusaha. Usahanya tuh karena terpaksa (demi memenuhi kebutuhan), mereka tidak lahir dan bercita-cita untuk jadi pengusaha," ujarnya.
(mdk/azz)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya