Jika perbankan dikuasai asing, ekonomi Indonesia bisa hancur
Merdeka.com - Wakil Presiden Boediono mengakui eksistensi bank nasional wajib didukung. Dia berkaca dari pengalaman dua negara Eropa, yaitu Islandia dan Siprus.
Perekonomian di negara-negara itu limbung akibat sektor perbankan sudah dikuasai bank asing. Dua negara itu mengalami krisis yang cukup parah seiring resesi zona Euro tiga tahun terakhir.
"Perbankan nasional harus berperan dominan. Pengalaman di Siprus, Islandia, yang sektor perbankan rasio modalnya 10 kali di atas PDB-nya, tapi semuanya dikendalikan bank asing, jadi ekonomi dalam negerinya kacau," kata Boediono saat membuka Indonesia Banking Expo di JCC Senayan, Jakarta, Kamis (23/5).
Karena itu, wapres ingin perbankan nasional membiayai kegiatan perekonomian dalam negeri. Jika sektor riil ditopang bank lokal, maka ekonomi Indonesia cenderung lebih kokoh.
"Kalau semua bank milik luar, kita tidak bisa leverage ekonomi sendiri, hancur kita. Kalau kita melupakan perbankan nasional agar mendukung ekonomi dalam negeri, nanti kita akan mendapat permasalahan," kata mantan Gubernur Bank Indonesia itu.
Di mata Boediono, tantangan utama perbankan nasional saat ini bukan pada persaingan dengan ekspansi bank dari Malaysia atau Singapura. Melainkan mengupayakan kapitalisasi dengan dana dari dalam negeri.
Mantan Gubernur Bank Indonesia ini percaya, bila modal bank nasional didapatkan dari dalam negeri, maka kepeduliannya menggerakkan sektor riil akan lebih terasa.
"Dari luar negeri modal untuk perbankan banyak, dari dalam sedang-sedang saja, tapi dari luar harus pilih-pilih. Apalagi kalau statusnya modal nasional, lebih bangga lagi. Intinya kita harus pikirkan bagaimana perbankan mencapai tingkat peran yang kita inginkan, perbankan yang sangat mendukung kegiatan ekonomi riil domestik," paparnya.
Meski berkeinginan menjaga eksistensi bank nasional, Boediono tidak ingin terlalu protektif menghalangi ekspansi bank asing. Globalisasi membuat setiap pemerintahan tidak bisa sepenuhnya menahan serbuan asing. Karena itu, dia meminta bankir lokal untuk menyesuaikan diri dan juga mengembangkan visi internasional.
"Memang kalau kita mengatakan nasionalisme sangat penting. Saya setuju pesan Bung karno, nasionalisme kita adalah nasionalisme dalam ruang tamansari internasional. Kita harus jaga kepentingan nasional, tapi itu juga tujuan setiap negara yang mau jadi bagian dunia. Karena dunia akan makin menyatu, kita harus siap," ujar Boediono. (mdk/noe)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya