Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Jika Perang Rusia dan Ukraina Meluas, Nilai Rupiah Terjun Bebas ke Rp15.000 per USD

Jika Perang Rusia dan Ukraina Meluas, Nilai Rupiah Terjun Bebas ke Rp15.000 per USD Rupiah. ©2022 Merdeka.com

Merdeka.com - Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira menyatakan, sektor keuangan Indonesia berpotensi terdampak parah akibat konflik Rusia vs Ukraina. Hal ini tercermin dari pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (USD) dalam beberapa waktu terakhir.

Dia memperkirakan, Rupiah akan mengalami pelemahan hingga mendekati Rp 15.000 per USD. Dengan catatan, eskalasi konflik terus meluas dan melibatkan banyak negara.

"Saat ini, Rupiah bergerak di 14.500, melemah. Dan ini akan terus bergerak diperkirakan mendekati 15.000 jika eskalasi konflik meluas dan melibatkan banyak negara," ujarnya saat dihubungi Merdeka.com, Sabtu (26/2).

Bhima menyatakan, jika proyeksi tersebut terjadi maka akan merugikan prospek pemulihan ekonomi nasional dan stabilitas moneter. Terlebih, di waktu yang sama Indonesia dihadapkan pada normalisasi kebijakan dari bank sentral Amerika Serikat (AS), The Federal Reserve (The Fed) untuk menaikan suku bunga acuan.

Untuk itu, pemerintah dan lembaga terkait diminta segera melakukan mitigasi untuk mengurangi tekanan terhadap sektor keuangan dalam negeri atas sejumlah permasalahan eksternal yang terjadi. Khususnya, ketegangan antara Rusia vs Ukraina hingga normalisasi kebijakan negara maju.

"Ini karena bertepatan dengan tappering off dan kenaikan suku bunga di negara maju," tutup dia menekankan.

Deretan Harga Komoditas Melonjak Tajam Dipicu Invasi Rusia ke Ukraina

komoditas melonjak tajam dipicu invasi rusia ke ukraina rev2Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.com

Harga komoditas global melonjak ke level tertinggi multi-tahun. Salah satu pemicunya yaitu Rusia yang meluncurkan invasi skala penuh ke Ukraina. Harga komoditas naik spontan meskipun aliran ekspor minyak, gas, biji-bijian dan logam Rusia ke Barat stabil.

Harga minyak naik di atas USD 100 per barel untuk pertama kalinya sejak 2014. Sedangkan harga gas Inggris dan Belanda naik 30 persen-40 persen dan gandum berjangka di Chicago melonjak ke level tertinggi 9,5 tahun.

Rusia memasok 10 persen minyak global, sepertiga gas Eropa dan, bersama dengan Ukraina, menyumbang 29 persen ekspor gandum global dan 80 persen minyak bunga matahari dan 19 persen ekspor jagung.

Rusia juga merupakan produsen utama aluminium, nikel, platinum, paladium, uranium, titanium, batu bara, kayu, dan pupuk.

Negara ini memasok volume yang signifikan dari gas ke Eropa melalui Ukraina, terutama ke negara-negara seperti Austria, Italia dan Slovakia serta Jerman dan Polandia meskipun yang terakhir mendapatkan sebagian besar gas Rusia mereka melalui rute lain.

Rusia melancarkan invasi habis-habisan ke Ukraina melalui darat, udara dan laut pada Kamis, serangan terbesar oleh satu negara terhadap negara lain di Eropa sejak Perang Dunia Kedua.

Monopoli pipa gas negara Rusia, Gazprom, mengatakan pasokan melalui Ukraina seperti biasa dan Ukraina mengatakan infrastruktur energinya tidak rusak. Austria juga mengatakan menerima pengiriman gas normal.

Setidaknya sepuluh pedagang minyak dengan rumah perdagangan dan perusahaan minyak Barat mengatakan tidak ada gangguan pada aliran minyak Rusia termasuk melalui Laut Hitam.

Rusia, Kazakhstan, Azerbaijan dan Turkmenistan mengirimkan sekitar 2-3 juta barel per hari atau 2-3 persen dari pasokan global ke pasar melalui Laut Hitam.

Turki, anggota aliansi militer Barat NATO, memiliki kendali atas Bosporus yang menghubungkan Laut Hitam dan Laut Mediterania.

Pergerakan kapal di Laut Azov dihentikan pada Kamis meskipun pelabuhan di Laut Hitam, yang menyumbang sebagian besar ekspor biji-bijian dan biji minyak, tetap buka.

Kekhawatiran tentang pasokan aluminium dari Rusia telah mendorong aluminium ke rekor tertinggi USD 3.449 per ton, naik 21 persen sepanjang tahun ini.

Rusal, produsen aluminium terbesar di dunia di luar China, memproduksi 3,8 juta ton aluminium pada tahun 2021, sekitar 6 persen dari perkiraan produksi dunia.

(mdk/bim)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP