Jika Perang Dagang Berlanjut, AS Diprediksi Resesi di 2021
Merdeka.com - Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, menyampaikan pidato pada Konferensi Internasional Bulletin of Monetary Economics and Banking (BEMB) ke-13 bertema Dead of Globalization and the Rise of Digitalization (Kematian Globalisasi dan Kebangkitan Digitalisasi). Dia mengajak para akademisi dan pengambil kebijakan memahami pertanda terjadinya fenomena itu demi merespons secara bijak.
Perry menyebut ada empat pertanda kematian globalisasi dan kebangkitan dunia digital. "Karakteristik pertama adalah kebangkitan anti-perdagangan global. Kita sedang menghadapi perang dagang antara AS dan China, serta AS dengan negara lain," ujar Gubernur Perry pada di Bali, Kamis (29/8).
Menurutnya, kalangan ekonom memprediksi AS akan mengalami resesi pada 2021 mendatang jika perang dagang berlanjut antara AS-China. Proteksionisme AS juga berpotensi berlanjut jika Presiden Trump terpilih kembali di pemilu 2020.
Dia melanjutkan, perdagangan global seharusnya bisa meningkatkan pertumbuhan ekonomi, produktivitas, dan kemakmuran. Namun, hal ini tidak terjadi karena adanya perang dagang. Bahkan, efek perang dagang telah menjalar ke negara-negara lain, termasuk negara Asia.
"Ini perlu kita sikapi bahwa ketegangan perdagangan tidak baik. Itu akan menurunkan perdagangan internasional, menurunkan pertumbuhan ekonomi tak hanya dua negara yang berperang tapi juga semua negara," ujar Perry.
Gubernur BI juga mengingatkan pertanda lain kematian globalisasi dan bangkitnya digitalisasi, yakni seperti arus modal antar negara dan nilai yang bergejolak, serta maraknya digitalisasi sektor keuangan.
Reporter: Tommy Kurnia
Sumber: Liputan6
(mdk/bim)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya