Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Jadi Perhatian Publik, Ahok Diingatkan Hati-hati dalam Berbicara

Jadi Perhatian Publik, Ahok Diingatkan Hati-hati dalam Berbicara Ahok. ©2015 merdeka.com/fikri faqih

Merdeka.com - Anggota Komisi VI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Subardi meminta Komisaris Utama Pertamina Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok untuk berhati-hati dalam melontarkan pernyataannya. Apalagi saat ini Ahok telah menjadi perhatian publik.

"Jadi hati-hatilah kalah orang sudah jadi perhatian publik, harus ngomong hati-hati," kata dia dalam sebuah diskusi di Jakarta, Minggu (20/9).

Dia menyarankan, ke depan Ahok harus lebih menahan diri dan melihat sesuatu secara komperhensif tidak hanya sebatas yang dilihat di depan mata. Setelah semua dipertimbangkan matang, baru kemudian bisa mengemukakan pernyataannya

"Kalau yang bersuara mungkin saya, enggak ada orang komentar, orang enggak ada yang nanggapin. Tapi karena yang komen Pak Ahok maka semua komentar. Ini persoalannya," tandas dia.

Sebelumnya, Subardi menilai upaya Komisaris Utama Pertamina Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok mengumbar persoalan internal Pertamina sangat tidak tepat. Sebab, sebagai Komisaris Utama mestinya dia bisa melakukan perbaikan yang ada di dalam tubuh Perseroan.

Dia mengatakan, sebagai Komisaris Utama, Ahok memiliki peran pengawasan luar biasa kepada Pertamina. Bahkan, jika perlu Ahok bisa mengambil keputusan dan tindakan melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) ketika terjadi persoalan di dalam perusahaan. Sehingga bisa menemukan titik persoalan.

"Hal-hal yang memang merugikan perusahaan, mestinya Ahok bisa mampu (selesaikan), tidak usah teriak minta tolong orang lain," kata dia dalam sebuah diskusi di Jalarta, Minggu (20/9).

Dia mengatakan, dengan diumbarnya persoalan ke eksternal seluruh masyarakat pun pada akhirnya mengetahui kinerja dari Pertamina. Harusnya Mantan Gubernur DKI Jakarta itu lebih dulu melakukan komunikasi di lingkungan internal Perseroan.

"Harusnya internal dulu, mengoptimalkan fungsi yang dia miliki, kewenangan yang dia miliki. Coba dirapatkan dengan sesama komisaris, komisaris kan enggak sendiri. Dia ada komut, kemudian komisaris biasa, dan sebagiannya. Rapatin lah, minta tanggapan komisaris itu yang ada. Baru kemudian ditegur, ajak rapat namanya direksi. Dari direktur dan lain-lain. Di situlah langkah perbaikan itu yang sesuai," jelas dia.

(mdk/azz)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP