Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Isu Geopolitik Jadi Pembahasan Alot di Presidensi G20

Isu Geopolitik Jadi Pembahasan Alot di Presidensi G20 Staf Ahli Kementerian Koordinator Perekonomian Edi Prio Pambudi. ©2020 Liputan6.com/Athika Rahma

Merdeka.com - Deputi Bidang Kerja Sama Internasional Kemenko Perekonomian, Edi Prio Pambudi mengatakan, isu geopolitik yang tengah terjadi di dunia saat ini turut membayang-bayangi pertemuan Sherpa Presidensi G20 Indonesia. Isu tersebut jadi pembahasan yang terkesan alot, sehingga itu memakan waktu cukup berlarut-larut untuk bisa mencapai kesepakatan dari seluruh negara anggota.

"Itu istilahnya mengambil waktu yang cukup panjang supaya untuk mencari solusi yang bisa diterima semua pihak. Karena apa, G20 itu basisnya adalah konsensus. Jadi kalau ada satu yang tidak konsensus, maka kita tidak bisa melaksanakan yang namanya Komunike atau pernyataan bersama," ujar Edi dalam sesi media briefing, Rabu (28/9).

Edi menyampaikan, seluruh negara anggota G20 saling berkoordinasi mencarikan jalan keluar yang bisa diterima semua pihak. "Memang tidak mudah, karena Indonesia ada di tengah. Kemudian dinamika diskusi seperti Rusia, China, US, saya pikir semuanya sudah berusaha untuk saling mendukung, saling mencarikan solusinya apa," ungkapnya.

Sejauh ini, Presidensi G20 Indonesia tetap yakin dan berupaya mendorong optimisme dalam Sherpa Meeting bisa disepakati bersama. Untuk kemudian dibawa ke dalam Konferensi Tingkat Tinggi atau KTT G20 yang nantinya digelar di Bali pada November 2022 mendatang.

"Sehingga, harapan kita adalah menjaga suasana bagaimana kita tetap akomodatif dengan semua kepentingan yang ada di sana. Ini lah memang salah satu tantangannya di dalam pembahasan multilateral oleh banyak kepentingan, tapi kita harus tetap akomodatif," tuturnya.

Menurut dia, pertemuan Presidensi G20 Indonesia sejauh ini selalu mengedepankan isu-isu paling utama yang terjadi saat ini, seperti soal food security, energy transition, hingga digital transformation. Negara anggota G20 selanjutnya bakal membuat konsensus, untuk dijadikan Leaders' Declaration yang jadi bentuk pernyataan bersama.

"Kita ingin sesuai arahan dari pak Presiden, bukan hanya sekadar narasi, tapi ada hasil konkret yang kita hasilkan. Itu yang kemudian kita kolaborasikan di dalam dokumen yang dihasilkan," pungkas Edi.

Reporter: Maulandy Rizky Bayu Kencana

Sumber: Liputan6.com

(mdk/azz)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP