Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Interkoneksi antar bank buat daya saing bank nasional meningkat

Interkoneksi antar bank buat daya saing bank nasional meningkat ATM . Merdeka.com/Dwi Narwoko

Merdeka.com - Bank Indonesia memfasilitasi interkoneksi antar penyedia jaringan ATM (switching company) melalui penandatanganan nota kesepahaman antara tiga perusahaan switching yaitu PT Artajasa Pembayaran Elektronis sebagai penyelenggara ATM Bersama, PT Rintis Sejahtera sebagai penyelenggara ATM Prima dan PT Daya Network Lestari sebagai penyelenggara ATM Alto.

Gubernur Bank Indonesia Darmin nasution mengatakan kesepakatan kerjasama interkoneksi ini merupakan langkah awal dari tujuan yang lebih besar dalam hal memberi kemudahan kepada masyarakat terkait sistem pembayaran.

"Lebih dari itu, kita punya mimpi yang lebih jauh. Masyarakat punya satu saja smart card. Mau naik kereta, naik apa. Cukup satu kartu, yang itu sudah berlaku di negara-negara lain," kata Darmin Nasution di Gedung Bank Indonesia, Jakarta, Senin (6/5).

Dengan adanya kesepakatan interkoneksi ini, nasabah akan dipermudah dalam melakukan transaksi keuangan perbankan, khususnya transfer antarbank yang sampai saat ini masih dibatasi. Sebelumnya, ketiga perusahaan switching ini belum bisa terhubung satu dengan yang lain. Akibatnya, untuk melakukan transfer antarbank di ATM belum bisa dilakukan, khususnya bank pemerintah ke bank swasta.

"Nantinya, ATM ini tidak hanya berfungsi sebagai teller yang hanya bisa mengambil uang saja, tapi juga transfer antarbank," kata Direktur Eksekutif Akunting dan Sistem Pembayaran Bank Indonesia Boedi Armanto.

Berdasarkan data BI yang diambil dari perusahaan switching, perbandingan jumlah transaksi tunai dan transfer di tiga perusahaan switching masih didominasi oleh transaksi transfer. Di jaringan ATM Alto saja, perbandingannya sudah 26 persen dan 74 persen.

Sementara di jaringan ATM Bersama, perbandingannya sudah 30 persen dan 70 persen. Sedangkan di jaringan ATM Prima sudah 14 persen dan 84 persen. "Artinya masyarakat lebih suka menggunakan ATM sebagai media untuk transfer ke antarbank maupun interbank," imbuh Boedi.

Boedi memaparkan, dengan penyatuan sistem jaringan ATM ini tentu saja akan meningkatkan transaksi tunai maupun nontunai di ATM. Harapannya, perbankan juga bisa meningkatkan pendapatan non bunga (fee based income) dari transaksi tersebut.

Di sisi lain, pihak perbankan sendiri juga bisa mengurangi biaya-biaya baik pendirian ATM baru ataupun harus bekerjasama dengan perusahaan switching tertentu. Perbankan juga bisa mengoptimalkan mesin ATM yang ada, sehingga tidak perlu menambah mesin ATM baru untuk menuju interkoneksi ini. "Selain biaya bisa ditekan, efisiensi bank makin meningkat. Akhirnya kita bisa bersaing dengan bank asing," kata Boedi.

Proses interkoneksi jaringan ATM ini telah dilakukan sejak Januari 2010 lalu. Namun baru akhir tahun 2012 ini, perusahaan switching dan perbankan akhirnya bersepakat membentuk interkoneksi sistem antar jaringan di ATM.

Boedi menegaskan, Bank Indonesia menjamin biaya transaksi untuk transfer antarbank ini akan sama dengan biaya transfer antarbank saat ini yaitu sekitar Rp 5.000 per transaksi. "Perusahaan switching ini mau mengurangi marjin (keuntungannya). Sebab, meski marjin tipis, tapi volume banyak, untung tetap menggunung," tambahnya. (mdk/bmo)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP