Ini penjelasan menkeu kenapa Indonesia sulit lepas dari jerat utang
Merdeka.com - Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro mengatakan masih banyak masyarakat yang masih belum memahami pentingnya pajak. Jika pembayaran pajak tersendat, salah satu solusi yang diambil pemerintah adalah melakukan utang luar negeri. Tentunya, hal ini bisa mengakibatkan utang di Indonesia menjadi lebih besar.
"Utang kita sudah Rp 3.000 triliun. Kenapa kita berutang? Kalau utang kita kurangi, belanja dikurangi, maka pelayanan kepada masyarakat berkurang dan pertumbuhan ekonomi akan terganggu. Maka kalau masyarakat menuntut pemerintah membantu ini itu, keluarkan subsidi, bangun ini itu, kami balikkan lagi uangnya dari mana? Solusinya ya tarik pajak atau utang," kata Menteri Bambang di Kantornya, Jakarta, Kamis (11/2).
Dia menambahkan, membayar pajak akan memberi pengaruh besar pada pembangunan infrastruktur di Tanah Air. Sebab, dengan adanya pembayaran pajak, maka pemerintah bisa memiliki modal untuk melakukan percepatan pembangunan.
Dengan begitu dia mengimbau kepada para ekonom Kementerian Keuangan untuk mensosialisasikan pentingnya pajak guna meningkatkan penerimaan negara.
Menurutnya, penerimaan negara, terutama dari pajak masih belum maksimal. Bahkan, rasio pajak di 2015 hanya mencapai 11 persen, masih tertinggal dari negara-negara tetangga yang bisa mencapai 13 persen.
"Maka 2016 ini ada baiknya para ekonom banyak berinteraksi dengan kanwil pajak dan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pajak. Karena masih banyak masyarakat di Indonesia yang tidak sepenuhnya paham mengenai pentingnya pajak. Jadi ini salah satu kegiatan yang bisa dikedepankan di 2016, yaitu penyadaran pentingnya pajak," imbuhnya.
Maka, dengan adanya sosialisasi yang dilakukan para ekonom, Menteri Bambang berharap akan semakin banyak wajib pajak yang taat membayar pajak. Sehingga pembangunan infrastruktur akan lancar, dan utang luar negeri tidak akan bertambah.
(mdk/bim)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya