Ini bahayanya jika abu vulkanik gunung berapi masuk ke mesin & kabin pesawat
Merdeka.com - Erupsi Gunung Agung di Bali beberapa waktu lalu menyemburkan asap tebal disertai pijar api yang tingginya melebihi 3.000 meter ke udara. Bandara di Lombok dan Bali-pun akhirnya ditutup karena abu vulkanik yang disemburkan Gunung Agung membahayakan penerbangan.
Lalu, seberapa bahaya abu vulkanik untuk pesawat terbang?
Dosen Fakultas Teknik Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya, Julendra Bambang Ariatedja mengatakan, abu vulkanik yang berasal dari letusan gunung berapi sangat berbahaya untuk pesawat. Sebab, abu tersebut bisa menyatu dan mengubah bentuk komponen pesawat.
Julendra yang merupakan pakar enginering struktur pesawat ITS menjelaskan, abu vulkanik adalah material larva yang kecil dan masih tidak stabil. Bila dipanaskan sebentar akan membentuk sesuatu benda dan mudah sekali menyatu menjadi benda. Dan, jika dingin maka akan menjadi es.
"Abu vulkanik jika masuk ke mesin pesawat akan sangat bahaya," katanya seperti ditulis Antara.
Dia mencontohkan, jika mesin pesawat kemasukan udara atau kotoran biasa, maka akan masuk ke temperatur yang tinggi dan akan keluar biasa saja. Memang akan ada kerusakan sedikit saja dalam kondisi ini. Sedangkan jika plastik masuk ke mesin pesawat makan akan meleleh, dan jika burung masuk maka akan hancur.
"Tapi kalau abu vulkanik bisa menyatu, mengubah bentuk komponen pesawat," tuturnya.
Dalam temperatur panas, kata dia, abu vulkanik akan menjadi material dan tidak akan lepas. Menempel terus di mesin pesawat.
Selain itu, saat abu vulkanik masuk, kecepatan mesin akan naik turun dan tidak konstan. Fungsi efisiensinya tidak bisa dikontrol. Jika masuk ke kabin tidak akan keluar karena menempel. Kalau masuk ke kabin lebih bahaya, karena penumpang pesawat harus pakai oksigen.
"Bahaya atau tidak itu terletak pada bisa memprediksi atau tidak. Kalau masuk ke mesin, nantinya tidak terprediksi, apakah dia bisa meledak, apakah drop, kemungkinan bisa drop. Tidak akan hilang kalau mesinnya tidak mati. Sangat bahaya," ucap dia.
Salah satu trik menyiasati abu vulkanik yang masuk adalah membiarkan mesin itu mati beberapa saat sehingga dingin. Saat dingin dimulai kembali mesinnya dan abu vulkanik akan keluar menjadi abu biasa. Trik tersebut haruslah dikuasai pilot.
Keadaan seperti itu jika di Amerika Serikat, lanjut dia, ada semacam vulkanik center yang akan memberi tahu daerah mana yang harus dilewati. Daerah mana yang ada abu vulkanik.
"Pilot, pramugari, orang di lapangan yang harus disiapkan, harus ada prosedur jika melewati abu vulkanik," ujar Julendra.
(mdk/idr)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya