Ini alasan pengembang enggan bangun rumah murah subsidi
Merdeka.com - Real Estate Indonesia (REI) Jawa Tengah mengakui sulit untuk membangun rumah sederhana atau rumah murah. Pembangunan rumah tak mudah mengingat harga jualnya yang sudah ditentukan oleh pemerintah.
"Artinya jangan sampai pengembang salah melakukan penghitungan karena berpotensi mengakibatkan kerugian," kata Wakil Ketua REI Jateng Bidang Promosi, Humas, dan Publikasi Dibya K Hidayat seperti ditulis Antara Semarang, Rabu (20/1).
Berbeda dengan rumah komersial, untuk rumah sederhana pengembang tidak dapat secara sepihak menaikkan harga jual. Diakuinya, kondisi ini juga yang menjadikan pengembang enggan untuk membangun rumah sederhana.
Selain itu, para pengembang juga harus berhadapan dengan tidak seragamnya aturan pemerintah pusat dengan perda terutama untuk kawasan yang dapat dibangun perumahan.
"Banyak pengembang yang salah mengambil tanah sehingga mereka kesulitan melakukan proses pembangunan rumah. Misalnya menurut Perda itu dijadikan lahan hijau tetapi telanjur akan digunakan untuk area perumahan," katanya.
Sebagai dampak dari kondisi tersebut, realisasi pembangunan rumah sederhana melalui program fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP) untuk Jawa Tengah pada 2015 menurun drastis dibandingkan realisasi pembangunan 2014.
Berdasarkan data dari REI Jateng, realisasi pembangunan rumah sederhana program FLPP 2015 sebanyak 4.000 unit, sedangkan 2014 bisa mencapai 8.000 unit.
Meski demikian, pihaknya tetap berharap pembangunan rumah sederhana tetap dapat berjalan di Jawa Tengah mengingat permintaan dari masyarakat sangat tinggi.
"Kalau masalah daya beli masyarakat terhadap rumah sederhana, justru pembeli yang mencari pengembang, bukan pengembang yang menawarkan ke pembeli," katanya.
(mdk/idr)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya