Ini 7 tantangan dalam pengembangan industri manufaktur dalam negeri
Merdeka.com - Pemerintah Daerah (Pemda), Pemerintah Pusat bersama Bank Indonesia hari ini menggelar Rapat Koordinasi. Dalam rapat ini, pengembangan industri manufaktur menjadi salah satu fokus yang dibahas.
Gubernur Bank Indonesia, Agus Martowardojo mengatakan, sejumlah tantangan masih dihadapi dalam pengembangan sektor industri manufaktur di Indonesia. Dalam rapat tersebut sebanyak tujuh tantangan pengembangan sektor industri teridentifikasi.
"Pertama, postur industri yang tidak imbang dengan komposisi terbesar merupakan industri berskala mikro dan kecil serta peran Industri Kecil dan Menengah (IKM) dalam rantai industri manufaktur Indonesia yang masih belum optimal. Kedua, relatif rendahnya kualitas Sumber Daya Manusia yang tercermin dari produktivitas tenaga kerja yang kurang kompetitif dan tingkat kekakuan (rigiditas) pasar tenaga kerja yang tinggi," ujar Agus di Hotel ShangRi La, Surabaya, Jumat (25/11).
Ketiga, lanjutnya, masih belum tersedianya energi yang cukup bagi menopang transformasi pada industri manufaktur dengan harga yang kompetitif. Salah satunya hal ini menyinggung perihal lambannya penurunan harga gas untuk industri sebesar USD 6 per meter juta kubik (MMBtu).
"Keempat, efisiensi logistik dan dukungan industri manufaktur yang masih belum memadai. Kelima, kebijakan industri yang belum terintegrasi antar lembaga terkait dan antara pemerintah pusat dan daerah," katanya.
Tantangan keenam, masih belum berimbangnya struktur industri dalam negeri. Sebab, keberadaan industri kecil menengah (IKM) jumlahnya jauh lebih besar dibanding industri besarnya.
"Yang pada akhirnya menciptakan ketergantungan bahan baku dan penolong pada luar negeri. Serta yang ketujuh, keterbatasan sumber pembiayaan industri terutama dari sisi keberagamannya," tutup mantan Menteri Keuangan tersebut.
(mdk/sau)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya