Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Ini 6 langkah Rizal Ramli pangkas dwelling time hingga satu hari

Ini 6 langkah Rizal Ramli pangkas dwelling time hingga satu hari Menko Maritim Rizal Ramli. ©Humas Kemenko Kemaritiman

Merdeka.com - Menteri Koordinator bidang Kemaritiman, Rizal Ramli menyebut waktu bongkar muat atau dwelling time di pelabuhan kini menurun menjadi 3,5 hari. Sebelumnya dwelling time mencapai 7 hari.

Rizal Ramli menyebut, proses penurunan dwelling time ini cukup panjang. Pada Juni 2015 lalu, Presiden Joko Widodo berkunjung langsung ke Pelabuhan Tanjung Priok untuk melihat proses bongkar barang. Pada saat itu, diduga terjadi penyimpangan bahkan diduga ada segelintir orang yang mendapatkan keuntungan dari proses dwelling time.

"Dwelling time itu sekitar 7 hari lebih saat Presiden mengunjungi ke Tanjung Priok, kemudian turun 5,5 hari. Presiden lalu minta diturunkan jadi 4,7 hari dan sekarang sekitar 3,5 hari," jelas Rizal Ramli dalam Konferensi Pers di Kantor Presiden, Jakarta Pusat, Selasa (29/3).

Kendati sudah menurun signifikan, Rizal Ramli mengaku akan terus berupaya menempuh berbagai cara untuk menurunkan dwelling time ke angka satu atau satu hari saja. Menurutnya, ada enam langkah yang akan dilakukan.

"Pertama kita ingin proses dokumen itu dipercepat. Tadi diputuskan karena banyak juga yang bandel, kapalnya datang dokumennya belum diurus. Jadi nanti akan disiapkan pinalti siapa yang dokumennya terlambat kena penalti lebih besar. Sehingga bisa lebih cepat," terang Rizal Ramli.

Langkah kedua, menyangkut jalur hijau dan jalur merah di Bea Cukai. Seperti diketahui, jalur hijau itu artinya nyaris bebas masuk karena importirnya kredibel, bonafit dan hanya memerlukan random checking. Tetapi untuk yang masuk jalur merah, perlu inspeksi fisik secara total.

"Angka tadinya yang jalur merah 6 persen, dan Bea Cukai sudah berhasil menurunkan jadi 4 persen dan itu sangat menolong. Karena jujur saja, permainan aparat yang di bawah biasanya itu di jalur merah."

Langkah ketiga, melakukan integrasi dalam sistem IT, termasuk Inaport. Langkah keempat, mengirim surat kepada Menhub, Menteri BUMN, dan Pelindo untuk membuka pelabuhan di Banten untuk bisa menerima kontainer. Kalau itu dilakukan, banyak industri di sekitar Banten, Serang, Anyer cost of logisticnya akan turun. Langkah kelima, memberantas mafia.

"Selama ini ada masalah dwelling time yaitu waktu kontainer turun sampai keluar pelabuhan. Tapi ada satu masalah lagi, yaitu waktu tunggu kapal di Pelabuhan apa yang disebut sebagai demorage time. Nah ini di Indonesia masih lama, masih 3-7 hari, karena manajemen yang lama itu tidak mengikuti standar paling baik di dunia yaitu first come first serve. Kapal yang datang duluan paling dulu dilayani. Masuk pear 1. Kapal nomor 2 masuk pear 2, kapal berikutnya pear 3 sehingga jalan sistemnya."

Langkah terakhir, memperbaiki manajemen. Setiap kapal yang masuk akan disesuaikan dengan urutannya masing-masinga. Tidak akan dibiarkan manajemen dipermainkan oleh segelintir orang.

"Siapa yang datang duluan itu yang diladeni," tandasnya.

(mdk/idr)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP