Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Infrastruktur RI Terus Digenjot, Tapi Serapan Baja Masih Rendah

Infrastruktur RI Terus Digenjot, Tapi Serapan Baja Masih Rendah Dirut Krakatau Steel Silmy Karim. ©2015 Merdeka.com

Merdeka.com - Pemerintahan Jokowi-JK memiliki fokus membangun infrastruktur di seluruh negeri. Namun ironisnya, gencarnya pembangunan tersebut rupanya tidak menjadi angin surga bagi industri baja Tanah Air.

Direktur Utama PT Krakatau Steel, Silmy Karim mengungkapkan, konsumsi baja tanah air sangat rendah. Berdasarkan data yang dia peroleh, konsumsi baja di Indonesia cuma 52 kilogram (kg) per kapita, jauh lebih rendah dari Filipina hingga Korea Selatan.

"Kita saja kalah sama Filipina, kalah sama Malaysia. Malaysia hampir 300 kg. Sama Singapura saja kalah, Singapura sudah 400-an kg per org per tahun," kata dia di Hotel Borobudur, Jakarta, Rabu (4/9).

Menurutnya, rendahnya konsumsi baja di Indonesia ini, kata dia, merupakan salah satu indikasi kurang andalnya proyek-proyek dalam negeri. Saat ini, negara dengan konsumsi baja tertinggi saat ini dipegang oleh Korea Selatan, mencapai angka 1.100 kg per kapita.

"Jadi konsumsi baja per kapita ini bisa kita artikan sebagai dua hal. Satu, industrinya belum terlalu hebat, (kedua) sama infrastrukturnya belum terlalu hebat. Kalau dua-duanya tinggi ini pasti tinggi (konsumsinya)," ungkapnya.

Secara nasional berdasarkan data yang dia paparkan, konsumsi baja pada 2018 adalah sebesar 15,1 juta ton. Sementara pada tahun 2024 konsumsi baja diperkirakan akan mengalami peningkatan lagi menjadi 21,4 juta ton. Krakatau Steel menyebut yang bisa diproduksi oleh pihaknya sekitar 10 juta ton, sehingga masih ada ruang yang belum bisa dipenuhinya sebesar 11,4 juta ton.

"Jadi ada potensi, 2024 konsumsi itu bisa 21 juta ton. kalau Krakatau Steel 10 juta ton artinya masih ada room lagi yang besar," tutupnya.

(mdk/azz)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP