Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Inflasi Tinggi, Ini Dampak yang Harus Dihadapi Indonesia

Inflasi Tinggi, Ini Dampak yang Harus Dihadapi Indonesia pertumbuhan ekonomi. ©2019 Merdeka.com/Imam Buhori

Merdeka.com - Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Margo Yuwono mengungkapkan kenaikan inflasi Indonesia sebesar 5,9 persen secara tahunan pada September 2022 dipicu oleh kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) pada awal September lalu.

"Inflasi yang terjadi di September 2022 yang sebesar 1,17 persen, merupakan inflasi tertinggi sejak Desember tahun 2014 di mana pada saat itu terjadi inflasi 2,46 persen sebagai akibat kenaikan harga BBM pada November 2014," tutur Kelapa BPS Margo Yuwono, Senin (3/10).

Direktur Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira mengatakan, kenaikan inflasi tersebut akan memberikan ancaman resesi yang sangat nyata.

Hal itu akan memberikan beberapa konsekuensi pertama yakni, biaya bahan baku pelaku usaha meningkat sementara sisi permintaan tidak siap hadapi kenaikan harga jual produk dan berimbas pada pengurangan rekrutmen karyawan.

"Dalam kondisi ini ada kekhawatiran inflasi berubah menjadi stagflasi," ujar Bhima kepada Merdeka.com.

Kemudian kedua, inflasi akan sebabkan bank sentral melakukan pengetatan moneter dan berujung meningkatnya cost of financing dari pelaku usaha. "Ekspansi bisa tertunda terutama di sektor manufaktur," jelas dia.

Konsekuensi terakhir, lanjutnya, akan bertambahnya jumlah orang miskin baru dan merosotnya pertumbuhan kelas menengah.

"Optimisme pemerintah dalam kuartal III 2022 di atas 5 persen sepertinya belum mampu menyentuh 5 persen hanya di kisaran 4,7 persen. Memang ada faktor pemulihan mobilitas masyarakat untuk belanja di luar rumah tapi ada hambatan dari naiknya biaya transportasi," tambahnya.

(mdk/azz)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP