Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Inflasi Indonesia Masuk yang Terendah di Dunia, Jokowi Bocorkan Rahasianya

Inflasi Indonesia Masuk yang Terendah di Dunia, Jokowi Bocorkan Rahasianya Presiden Jokowi berulang tahun. ©2017 Merdeka.com

Merdeka.com - Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyampaikan ekonomi Indonesia cukup tangguh hadapi lonjakan inflasi. Hal ini disampaikan Jokowi dalam pidato tahunan MPR 2022 di Kompleks Parlemen.

Dalam pidatonya, Presiden Jokowi mengatakan inflasi di Indonesia mencapai 4,9 persen. Persentase ini, menurut Presiden Jokowi, merupakan inflasi terendah dibandingkan dengan inflasi yang terjadi di negara-negara maju.

"Inflasi juga berhasil dikendalikan di kisaran 4,9 persen. Angka ini jauh di bawah rata-rata inflasi ASEAN yang berada di sekitar 7 persen, jauh di bawah inflasi negara-negara maju yang berada di sekitar 9 persen," ujar Presiden Jokowi, Selasa (16/8).

Dari kondisi tersebut, Presiden Jokowi mengatakan bahwa pemerintah telah mengalokasikan subsidi dengan jumlah cukup besar untuk BBM, LPG, dan listrik sebesar Rp502 triliun.

"Pemerintah mampu memberikan subsidi BBM, LPG, dan Listrik, sebesar Rp502 triliun di tahun 2022 ini, agar harga BBM di masyarakat tidak melambung tinggi," ungkapnya.

"Ekonomi Indonesia tetap sangat baik di tengah perekonomian dunia yang sedang bergolak," sambungnya.

Pemerintah Diminta Waspadai Hiper-Inflasi

waspadai hiper inflasi rev1Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.com

Sementara itu, Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), Bambang Soesatyo meminta, pemerintah untuk mewaspadai tren lonjakan inflasi di 2022. Bambang memproyeksikan, laju inflasi Indonesia bisa mencapai 10 hingga 12 persen pada September mendatang.

"Pada bulan September 2022, kita diprediksi akan menghadapi ancaman hiper-inflasi, dengan angka inflasi pada kisaran 10 hingga 12 persen," katanya ujarnya dalam pembukaan sidang tahunan di Jakarta, Selasa (16/8).

Bamsoet menyebut, tren lonjakan inflasi dalam beberapa waktu terakhir dipengaruhi oleh kenaikan harga minyak mentah dunia imbas ketegangan geopolitik dunia. Badan Pusat Statistik mencatat, per Juli 2022, laju inflasi Indonesia berada di level 4,94 persen secara tahunan (year on year/yoy). Sedangkan, pada bulan Agustus diprediksi akan meningkat pada kisaran 5 hingga 6 persen.

Padahal, lanjut Bamsoet, inflasi dapat menjadi ancaman serius bagi pemulihan ekonomi nasional. Sebab, laju kenaikan inflasi disertai dengan lonjakan harga pangan dan energi yang akan membebani daya beli masyarakat, yang baru saja bangkit dari pandemi Covid-19.

Bamsoet mencatat, lonjakan harga minyak dunia pada awal April 2022 mencapai USD 98 per barel. Angka ini jauh melebihi asumsi APBN 2022 sebesar USD 63 per barel.

Menurutnya, kenaikan harga minyak yang terlalu tinggi, tentunya akan menyulitkan dalam mengupayakan tambahan subsidi, untuk meredam tekanan inflasi. Alhasil, beban subsidi pemerintah untuk BBM, Pertalite, Solar, dan LPG, sudah mencapai Rp 502 triliun.

"Tidak ada negara yang memberikan subsidi sebesar itu," ujarnya.

Untuk itu, kondisi fiskal dan moneter Indonesia perlu menjadi perhatian serius pemerintah. Hal ini guna menghadapi potensi krisis global.

(mdk/bim)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP