Indonesia Kecipratan Pemulihan Ekonomi China
Merdeka.com - Pemerintah China pada 8 Januari 2023 lalu baru saja mencabut kebijakan zero Covid-19. Hal serupa juga sudah lebih dulu dilakukan Pemerintah Indonesia dengan mencabut kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) pada 30 Desember 2022.
Direktur Treasury & International Banking Bank Mandiri, Panji Irawan menyebut ada pergerakan 2 miliar orang pada perayaan Tahun Baru Imlek akhir pekan lalu. Artinya potensi bergeraknya mesin-mesin perekonomian kembali berjalan.
"Saya dengar ada pergerakan orang 2 miliar saat Imlek. Kalau mereka melakukan perjalanan berarti ada 4 miliar orang beredar," kata Panji dalam konferensi pers Pre Event Mandiri Invesment 2023, Jakarta, Selasa (24/1).
Tingginya pergerakan masyarakat ini memberikan sinyal positif karena permintaan terhadap energi, fasilitas di jalan raya hingga energi untuk kendaraan jadi meningkat. Apalagi Pemerintah Indonesia juga sudah mulai menerima kunjungan turis dari China yang liburan tahun baru di Tanah Air.
"Ini positif buat kita karena sepanjang mereka PPKM ini demain teredam," kata dia.
Dampak yang sama juga bisa dirasakan Pemerintah China. Tidak sedikit juga orang yang datang dari berbagai negara termasuk Indonesia ke negara tirai bambu tersebut. "Jadi mereka mengirimkan turis ke kita dan mereka menerima turis juga. Apalagi yang mereka kirim ini tidak sedikit dan ini bisa menggerakkan mesin pertumbuhan kita," kata Panji.
Keuntungan lain bagi Indonesia tak hanya sebatas dari pergerakan orang. Meningkatnya aktivitas ekonomi di China bisa mendorong ekspor produk Indonesia juga meningkat. Mengingat aktivitas pabrikasi juga mulai berjalan menuju normal.
"Ini ada demain domestik dan manufaktur yang diekspor Indonesia karena dipengaruhi adanya ancaman resesi tahun 2023," jelasnya.
Dia memperkirakan adanya ancaman resesi ini membuat bank sentral Amerika Serikat, The Fed dan Bank Indonesia tidak akan begitu agresif dalam meningkatkan suku bunga acuan. The Fed diperkirakan hanya akan menaikkan suku bunga 2 kali, sedangkan Bank Indonesia hanya 1 kali pada Januari saja.
"Kalau tahun ini The Fed menaikkan suku bunga sekali, dua kali dan Bank Indonesia juga sekali ini karena tidak selamanya mengatasi resesi dengan jurus anti inflasi," pungkasnya.
(mdk/azz)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya