Indonesia Diharapkan Jadi Eksportir Dominan Buah ke China
Merdeka.com - Menteri Perdagangan, Enggartiasto Lukita melakukan serangkaian langkah lobi ke China. Langkah ini diambil untuk mendongkrak ekspor ke salah satu ekonomi terbesar di dunia tersebut. Komoditas yang diharapkan menjadi pendongkrak neraca perdagangan Indonesia adalah CPO, buah-buahan dan sarang walet.
Menteri Enggar mengharapkan dari lobi yang dilakukan, Indonesia bisa meraih setidaknya USD 1 miliar per tahunnya dari ekspor sarang burung walet. Prioritas Menteri Enggar adalah komoditas yang tidak diproduksi China.
Langkah Kemendag meningkatkan ekspor produk buah-buahan ke China dinilai positif. Sebab, produk hortikultura merupakan salah satu produk unggulan Indonesia. Potensinya pun dinilai besar. Lobi Mendag Enggartiasto di sana diharap bisa menaikkan kuota impor manggis, dan buah lainnya saingi Vietnam dan Thailand.
"Memang Indonesia unggul terutama di produk makanan minuman, tembakau, tekstil, dan juga produk-produk pertanian dan perkebunan, dan tentunya ini menjadi komoditas unggulan kita. Jadi cukup positif kalau kita kemudian bisa menegosiasikan ekspor kita ke sana," kata Ekonom Universitas Indonesia, Fithra Faisal di Jakarta.
Potensi ekspor ke China tercermin dari membaiknya ekspor manggis ke negara tersebut. Dia meyakini ekspor manggis dapat membaik seperti sebelum Negeri Tirai Bambu itu membatasi impor manggis dari Indonesia.
Melansir data Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor manggis ke China pada 2018 tercatat sebesar 38,83 ribu ton, tumbuh hingga 324 persen dibandingkan ekspor pada 2017 yang hanya mencapai 9,16 ribu ton. Nilai ekspor manggis pada 2018 pun tercatat sebesar Rp 474 miliar atau tumbuh 778 persen dari nilai ekspor pada 2017 yang sebesar Rp 54 miliar.
Ekspor manggis ke negeri tirai bambu pernah mencapai USD 36 juta pada 2012. Namun, angkanya turun drastis menjadi USD 96 ribu di 2013, menyusul larangan impor manggis dari Indonesia yang diberlakukan negara tersebut.
Sementara itu, pengamat ekonom dari Indef, Rusli Abdullah, menyebutkan kekayaan alam berupa buah-buahan yang beraneka ragam menjadi kekuatan Indonesia. Hal ini menciptakan peluang bagi Indonesia untuk mengekspor buah-buah tropis ke negara empat musim, salah satunya China.
"China itu empat musim, Indonesia dua musim, punya buah-buah tropis yang kalau dijual ke China laku banget. Karena orang-orang empat musim sangat suka buah-buahan tropis mereka stok untuk musim dingin, sangat luar biasa permintaannya," kata Pengamat Ekonomi dari Indef Rusli Abdullah.
Menurutnya, buah-buahan yang cukup potensial seperti manggis, salak, durian, maupun nanas berpeluang terus diekspor ke Tiongkok karena cenderung tahan lama. Sementara, buah seperti pisang meskipun produksinya cukup banyak namun kurang tahan lama. "Karena jarak China dan Indonesia cukup jauh, jadi rentan busuk," ungkapnya.
Meskipun menilai positif, Rusli mengingatkan agar daya saing perkebunan ditingkatkan. Perkebunan buah-buahan harus dikelola secara massif atau dalam skala besar. Selain itu, rantai pasok juga harus diperbaiki dengan memanfaatkan dana desa. "Karena kebun-kebun buah ini kan banyak di desa-desa, " ungkapnya. (mdk/idr)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya