Imbas Covid-19, Rupiah Sempat Melemah Hingga Rp16.575 per USD di 2020
Merdeka.com - Pandemi Covid-19 membuat tekanan di pasar keuangan global dan menimbulkan ketidakpastian terhadap perekonomian domestik. Gejolak di pasar keuangan mengakibatkan pengalihan investasi global kepada aset-aset keuangan yang lebih aman.
"Akibatnya mendorong terjadinya aliran modal keluar dari negara berkembang. Tak terkecuali di Indonesia," tulis Bank Indonesia dalam Buku Laporan Akuntabilitas Bank Indonesia yang diluncurkan Rabu, (27/1).
Pada triwulan I dan II tahun 2020, transaksi modal dan finansial (TMF) di Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) mencatat pembalikan aliran modal asing. Masing-masing sebesar minus USD 3,1 miliar dan USD 10,6 miliar.
Hal ini pun membuat Rupiah terdepresiasi hingga Rp 16.575 per USD pada 23 Maret 2020. Ini pun diikuti dengan volatilitas yang meningkat.
Langkah stabilisasi oleh Bank Indonesia disertai komunikasi intensif berhasil menurunkan tekanan pada nilai tukar Rupiah. Penyesuaian eksternal yang berjalan baik ini didukung fleksibilitas nilai tukar dan penurunan permintaan domestik.
Sehingga mendorong penurunan defisit neraca transaksi berjalan sebesar 1,3 persen PDB pada triwulan I dan 1,2 persen PDB pada triwulan II 2020.
Pada semester I 2020, NPI mencatatkan surplus sebesar USD 700 juta dan cadangan devisa meningkat menjadi USD 131,7 miliar. Jumlah ini setara dengan 8,13 kali impor.
PSBB Pukul Ekonomi
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comSelain itu, dampak Covid-19 terhadap perekonomian Indonesia pada semester I 2020 sangat signifikan. Pandemi yang menyebar sangat cepat ke seluruh wilayah Indonesia sejak awal Maret mengakibatkan pemerintah menerapkan kebijakan pembatasan mobilitas, seperti PSBB di beberapa daerah, tidak dapat dihindari.
Pembatasan mobilitas menyebabkan penurunan tajam aktivitas ekonomi masyarakat. Penurunan kinerja terjadi di seluruh komponen. Baik konsumsi rumah tangga, maupun investasi Pemerintah dan swasta.
Pelemahan permintaan global menurunkan kinerja ekspor barang. Kecuali beberapa komoditas ekspor manufaktur sejalan dengan pemulihan di China yang lebih cepat.
(mdk/bim)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya