Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Imbas Corona, Pemerintah Genjot Sistem Barter Komoditas Ekspor Hasil Bumi Indonesia

Imbas Corona, Pemerintah Genjot Sistem Barter Komoditas Ekspor Hasil Bumi Indonesia Mendag dan Mentan Sidak Pasar Senen. ©2020 Merdeka.com/Iqbal S Nugroho

Merdeka.com - Kementerian Perdagangan (Kemendag) dan Kementerian Pertahanan (Kemenhan) tengah menjajaki mekanisme pelaksanaan imbal dagang dengan beberapa negara mitra dagang di tengah pandemi Covid-19. Beberapa komoditas yang siap diimbaldagangkan antara lain kelapa sawit, karet, permesinan, kopi dan turunannya, kakao dan turunannya, produk tekstil, teh, alas kaki, ikan olahan, furnitur, buah-buahan, kopra, plastik dan turunannya, resin, kertas, serta rempah-rempah.

"Tujuan imbal dagang adalah untuk menyeimbangkan neraca perdagangan antara Indonesia dengan negara mitra dagang, sehingga bisa sama-sama mendatangkan devisa," kata Menteri Perdagangan (Mendag) Agus Suparmanto, Kamis (16/7).

Menteri Agus mengatakan manfaat imbal dagang antara lain adalah untuk mengatasi hambatan dan kendala ekspor di luar negeri. Sekaligus memperluas wilayah pasar dan memasarkan produk baru, memberikan on top/additional ekspor, penghematan devisa negara, dan mengatasi kesulitan impor karena keterbatasan devisa.

Selain itu, imbal dagang juga dianggap mempercepat transfer teknologi dan pengetahuan. Sehingga relevan dalam mendukung keseimbangan neraca perdagangan dan pembayaran, serta peningkatkan produksi juga memperluas kesempatan kerja.

"Dengan skema imbal dagang, komoditi ekspor Indonesia dapat mendukung pertumbuhan ekonomi nasional agar bisa semakin bergerak dan tumbuh," pungkas Mendag Agus.

Kemendag: Pembahasan Barter Sukhoi Dengan Hasil Bumi RI Masih Alot

barter sukhoi dengan hasil bumi ri masih alotRekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.com

Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kemendag, Oke Nurwan, mengatakan saat ini pemerintah Indonesia tengah menunggu keputusan Rusia terkait imbal dagang atau barter untuk membeli pesawat tempur Sukhoi Su-35 dengan sejumlah komoditas di dalam negeri. Oke menyayangkan sikap Rusia yang terkesan lamban dalam menyikapi rencana kerja sama tersebut.

"Tidak tahu (kapan ditandatangani). Ini kan sudah awal tahun. Berarti alot di sananya," kata Oke di Kantornya, Jakarta, Kamis (4/1).

Oke mengungkapkan, jika terealisasi, imbal dagang tersebut akan membawa dampak positif terhadap kinerja ekspor Indonesia. Saat ini, lanjutnya, Kemendag dalam posisi menunggu kontrak antara Kementerian Pertahanan (Kemenhan) Indonesia dengan Pemerintah Rusia.

"Intinya kalau untuk imbal dagang kita menunggu main kontraknya di tanda tangan. Jadi nanti bolanya ada di Kemenhan," ujarnya.

Sebagai informasi, pemerintah Indonesia hendak membeli 11 pesawat tempur jenis Sukhoi SU-35 untuk menggantikan pesawat F-5. Pembelian tersebut dilakukan dengan cara imbal dagang (barter) sebesar 50 persen dengan komoditas hasil perkebunan Indonesia.

Mendag Enggar meminta pemerintah Rusia untuk tidak membarter pesawat hanya dengan satu jenis komoditi. Di mana, Rusia sangat menginginkan karet sebagai imbal dagang.

"Komoditinya kami tidak mau satu. Semula mereka harapkan karet aja, tapi kami minta tidak itu aja," kata Menteri Enggar.

(mdk/bim)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP