Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Ikuti Arahan Erick Thohir, Pupuk Kaltim Siap Rambah Pasar Pupuk Non-Subsidi

Ikuti Arahan Erick Thohir, Pupuk Kaltim Siap Rambah Pasar Pupuk Non-Subsidi Pupuk Indonesia. istimewa ©2018 Merdeka.com

Merdeka.com - PT Pupuk Kalimantan Timur (Pupuk Kaltim) siap untuk menindaklanjuti arahan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir untuk merambah pasar pupuk non-subsidi yang memiliki potensi tumbuh sangat besar.

"Kami siap mengikuti arahan dari pemerintah terkait fokus perusahaan untuk menggarap peluang di pasar non-subsidi," ucap Direktur Utama Pupuk Kaltim, Rahmad Pribadi dalam pernyataannya, Minggu (3/10).

Rahmad mengungkapkan, Pupuk Kaltim sendiri memiliki fasilitas produksi yang sangat efisien dan berkapasitas yang besar. "Jadi di samping kewajiban untuk memenuhi pupuk subsidi, kita juga siap untuk bersaing dan meningkatkan pangsa pasar pupuk non subsidi. Bahkan tidak hanya di pasar domestik, kita juga menargetkan peningkatan pangsa pasar di Asia Pasifik," tegasnya.

Apalagi, perkembangan dan kemajuan dalam pertanian di Indonesia meningkat tajam. Sehingga kebutuhan pupuk menjadi semakin tinggi. "Produksi pupuk non subsidi Pupuk Kaltim, khususnya pupuk Urea Daun Buah, menguasai market share yang sangat besar di Indonesia. Sementara pupuk NPK Pelangi menjadi idola petani dalam meningkatkan produksi pangan dan hortikultura serta perkebunan," kata Rahmad.

Hingga 21 September 2021, distribusi pupuk non-subsidi dalam negeri, Pupuk Kaltim telah menyalurkan 800.000 ton Urea Daun Buah atau 72 persen dari target 1,1 juta ton dan 120.000 ton NPK Pelangi atau 60 persen dari target 200.000 ton di tahun 2021.

"Dengan jaringan distribusi dan penguasaan wilayah pemasaran, pupuk non subsidi Pupuk Kaltim yang memiliki kualitas prima dan berlabel SNI, selalu tersedia guna memenuhi kebutuhan petani dan meningkatkan hasil produksi pertanian di Indonesia," terang Rahmad.

Pupuk Kaltim yang merupakan bagian dari Pupuk Indonesia Group, saat ini merupakan produsen Urea terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara dengan kapasitas produksi mencapai 3,43 juta ton per tahun. Dengan besaran kapasitas tersebut, Pupuk Kaltim menjadi salah satu dari lima besar produsen Urea terbesar di Asia Pasifik. Pada 2020, 72 persen dari volume penjualan Urea Pupuk Kaltim menyasar pasar non subsidi domestik dan ekspor, dengan terlebih dahulu memastikan kebutuhan dalam negeri terpenuhi.

"Untuk meningkatkan penggunaan pupuk non subsidi dalam negeri, kami menciptakan ekosistem yang membantu meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petani Indonesia melalui program Makmur (Mari Kita Majukan Usaha Rakyat). Di dalam program ini kami menggandeng berbagai stakeholders di industri pertanian, mulai dari petani, distributor pupuk dan pestisida, pemerintah daerah, offtaker, hingga lembaga keuangan dan asuransi," ucap Rahmad.

Hingga Agustus 2021, program Makmur Pupuk Kaltim telah dilaksanakan di lahan seluas 9.231 hektar atau sudah mencapai 77 persen dari total target 12.000 hektar di 2021. Sebanyak 6.535 petani telah merasakan manfaat langsung dari program ini, dengan peningkatan rata-rata produktivitas untuk tanaman padi sebesar 137 persen dan jagung 145 persen, serta peningkatan keuntungan yang didapatkan petani rata-rata untuk tanaman padi sebesar 151 persen dan jagung 145 persen.

"Dengan dukungan di pasar nonsubsidi dan program Makmur yang terus kami perluas wilayahnya, akan membantu meningkatkan produktivitas petani dan turut mendorong Indonesia menjadi lumbung pangan dunia," tutup Rahmad.

Kata EricK Thohir

Sebelumnya, Menteri BUMN Erick Thohir menyatakan saat ini keseimbangan antara pupuk subsidi dan non-subsidi masih belum stabil. Untuk mengatasi persoalan tersebut, dia menekankan perlunya kerja sama antar BUMN terkait.

"Ini tentang tanggung jawab bersama, untuk meningkatkan pendapatan petani, BUMN ini hadir untuk membantu pemerintah, karena kita ketahui bahwa pengeluaran pemerintah jumlahnya besar dan pemasukan juga jadi keprihatinan," kata dia di Jakarta, Kamis (30/9).

Dia menyebut, subsidi untuk pupuk meningkat jadi sekitar Rp29 hingga Rp30 triliun. "Di mana kita tahu subsidi pupuk meningkat Rp 29-30 triliun, kalau liat petanya, market dari pupuk non-subsidi meningkat 53 persen, tapi di sisi lain nilai subsidinya meningkat juga," katanya.

"Tentu dengan strategi besar kita dorong Pupuk Kaltim tegak di market untuk pupuk non subsidi dan empat lainnya di (sektor) subsidi. Kita coba, kita cari ekosistemnya," tukasnya.

(mdk/idr)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP