Hubungan KAI dan Pertamina 'terbakar', Dahlan bela siapa?
Merdeka.com - Senin lalu (9/12), masyarakat Indonesia dikejutkan dengan kejadian tabrakan antara KRL dengan sebuah mobil pengangkut Bahan Bakar Minyak (BBM) di perlintasan rel kereta Bintaro, Tangerang Selatan. Lima orang tewas dan puluhan lainnya luka-luka.
Tiga dari lima korban yang tewas dalam kejadian itu tak lain pegawai PT KAI yakni masinis KRL Darman Prasetyo, teknisi Sofyan Hadi, dan asisten masinis Agus Suroto. Sementara sopir truk pengangkut BBM yakni Chosimin dan kernetnya, Mujiono masih menjalani perawatan intensif di RS Pusat Pertamina.
Tidak hanya korban tewas, tabrakan tersebut juga mengakibatkan sejumlah gerbong terbakar, perjalanan KRL yang melewati rute itu pun harus dibatalkan seharian. Dua perusahaan BUMN terlibat mendapat sorotan. PT KAI dan PT Pertamina selaku induk usaha PT Patra Niaga, perusahaan pemilik truk pengangkut BBM itu. Dua bos BUMN yakni Dirut PT KAI Ignasius Jonan dan Dirut PT Pertamina Karen Agustiawan sama-sama mendatangi korban dan berjanji memberi santunan.
Beberapa hari pasca kejadian itu, PT KAI mengeluarkan pernyataan keras dan mengejutkan. KAI berencana melakukan gugatan terhadap perusahaan dan pihak-pihak yang dinilai paling bertanggung jawab atas kejadian itu. Juru Bicara PT KAI Sugeng Priyono menuturkan, KAI tidak menuding Pertamina sebagai pihak yang paling bertanggung jawab atas tabrakan yang menewaskan 5 orang tersebut.
"Bukan berarti kalau truk itu ada tulisannya Pertamina langsung diartikan itu milik Pertamina. Kita tidak bilang akan mengugat Pertamina, tapi siapa saja yang memang paling bertanggung jawab yang mengakibatkan kerugian material maupun imaterial," ujar Sugeng kepada merdeka.com di Jakarta, Rabu (11/12).
Sugeng mengatakan, gugatan itu bisa dilayangkan ke perusahaan, vendor, sopir bahkan masyarakat yang dinilai sebagai pihak yang bertanggung jawab "Kalau di situ anak perusahaan, atau induk tetap kena. Termasuk masyarakat," katanya.
Untuk melayangkan gugatan, pihaknya membutuhkan perhitungan kerugian material dan imaterial. Saat ini, PT KAI tengah menghitung kerugian yang ditimbulkan dari tabrakan antara KRL dan mobil tangki pengangkut BBM.
PT Patra Niaga, selaku anak perusahaan Pertamina mengakui bahwa kendaraan yang menerobos perlintasan hingga akhirnya terlibat kecelakaan dengan kereta merupakan milik mereka. "Truk tangki itu yang mengelola bukan Pertamina. Tapi anak perusahaan (Patra Niaga)," ujar Dirut PT Patra Niaga, Ferdy Novianto.
Namun dia membantah jika ada yang menyebutkan, kecelakaan terjadi lantaran kelalaian anak buahnya yang dinilai tidak profesional dalam mengemudi.
Menurut Ferdy, seluruh pekerja yang bertugas di perusahaannya sudah diberikan pembekalan sesuai standar operasional pekerja di setiap perusahaan. "Kami juga punya pelatihan khusus buat sopir," tegasnya.
Dua perusahaan pelat merah ini saling membela diri dan tak terima jika disudutkan sebagai biang kecelakaan itu. Menteri BUMN Dahlan Iskan hanya menanggapi santai terkait memanasnya hubungan kedua anak buahnya itu.
Termasuk soal rencana gugatan dari PT KAI pada Patra Niaga dan kemungkinan juga ke Pertamina selaku induk usaha. Dia menyerahkan sepenuhnya kepada direksi KAI. Termasuk jika menggugat perusahaan atau anak perusahaan BUMN lainnya. "Terserah. Itu terserah," ujar Dahlan.
Siapa yang Dahlan bela? Dahlan geram dengan bantahan Dirut PT. Patra Niaga, terkait pernyataan bahwa sopir dan kernetnya tidak profesional. "Ngapain dibantah begitu. Ikut saja putusan penegak hukum," ujar Dahlan melalui pesan singkatnya kepada merdeka.com, Rabu (11/12).
Mantan Dirut PLN ini mengatakan, PT. Patra Niaga harusnya mendidik sopir-sopir tangki tentang rambu-rambu lalu lintas. Terlebih, barang bawaan berupa bahan bakar minyak rawan terbakar.
"Mendidik sopir-sopir, mengingatkan pentingnya rambu dan sensitifnya barang yang mereka bawa. Sopir-sopir Pertamina sendiri maupun sopir-sopir rekanan Pertamina," jelasnya.
Meski mengakui ada kesalahan dari sisi sopir PT Patra Niaga, namun Dahlan tetap membela anak kesayangannya, Dirut Pertamina Karen Agustiawan.
"Intinya ada sopir yang enggak waspada. Tapi apakah kalau sopir itu salah apakah Dirut Pertamina juga ikut salah? Ya masa begitu, kalau begitu lama kelamaan Obama juga bisa disalahkan," jelasnya. (mdk/noe)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya