Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Hipmi menentang rencana Jokowi gabung pasar bebas buatan Amerika

Hipmi menentang rencana Jokowi gabung pasar bebas buatan Amerika Jokowi temui Obama di Gedung Putih. ©2015 REUTERS/Jonathan Ernst

Merdeka.com - Sikap Presiden Joko Widodo yang membuka peluang Indonesia bergabung dalam pasar bebas buatan Amerika Serikat atau Trans Pacific Partnership (TPP) ditentang oleh Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi), Bahlil Lahadalia. Menurut dia, Indonesia belum siap untuk bergabung dalam pasar bebas tersebut.

"Saya pikir yang pertama itu kita lihat dulu apa keuntungan kita? Harus kita tanya pada diri kita sendiri dulu, kalau belum siap jangan lah. Kalau kita lihat kan dari beberapa kondisi yang ada agaknya sih menurut saya kita menahan diri dulu lah," ujarnya kepada merdeka.com di Gedung Bidakara 2, Jakarta, Selasa (3/11).

Menurutnya, Indonesia harus terlebih dulu memperbaiki kondisi perekonomiannya sebelum memutuskan bergabung ke sejumlah perjanjian perdagangan bebas. "Kedua, itu kan adalah suatu konsensus, bahwa kalaupun sudah disetujui harus dikembalikan kepada parlemen masing-masing negara untuk mendapatkan pengesahan dan sampai sekarang saya lihat belum ada finalisasinya sampai dimana," sambungnya.

TPP sejauh ini beranggotakan Singapura, Brunei, Selandia Baru, Chile, Amerika Serikat, Australia, Peru, Vietnam, Malaysia, Meksiko, Kanada, dan Jepang. Korea Selatan telah menyatakan setuju bergabung dengan TPP dan akan membahas prosesnya lebih lanjut. Negara potensial lainnya yang akan bergabung, di samping Indonesia, ialah Kolombia, Filipina, Thailand, Taiwan.

Peneliti lembaga swadaya Indonesia for Global Justice (IGJ), Rachmi Hertanti, mengatakan tidak ada keuntungan apapun dengan bergabung ke TPP. Dia menilai keterlibatan dalam forum pasar bebas bentukan AS itu mengancam Indonesia dibanjiri produk dari Korsel, AS, ataupun Jepang.

"Implementasi perjanjian perdagangan bebas menjadikan Indonesia hanya sebagai pemasok bahan mentah dan menjadi pasar impor bagi produk barang dan jasa negara lain," kata Rachmi.

(mdk/bim)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP