Hari ini, Rupiah terus menguat ke posisi Rp 13.343 per USD
Merdeka.com - Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (USD) dibuka menguat di perdagangan hari ini, Rabu (7/12). Rupiah dibuka di level Rp 13.339 per USD atau menguat dibanding penutupan perdagangan kemarin di Rp 13.370 per USD.
Mengutip data Bloomberg, Rupiah langsung menguat usai pembukaan. Tercatat, nilai tukar sempat menyentuh level Rp 13.340 per USD. Saat ini, Rupiah berada di Rp 13.343 per USD.
Saat berbicara di acara 100 Ekonom Indonesia, di Hotel Fairmount, Jakarta, Selasa (6/12), Presiden Joko Widodo (Jokowi) kembali menyinggung Amerika Serikat dan Donald Trump. Jokowi mengatakan, semua mata uang di dunia termasuk mata uang Rupiah terhadap USD melemah pasca terpilihnya kandidat dari Partai Republik, Donald Trump, sebagai Presiden Amerika Serikat (AS).
Jokowi memperkirakan, Trump akan menerapkan kebijakan ekonomi yang sifatnya reflasi, dengan memperkuat pertumbuhan ekonomi AS, dan meningkatkan inflasi nilai mata uang USD.
Oleh karena itu, Jokowi meminta agar para pelaku pasar tidak mengukur perekonomian Indonesia dari kondisi ekonomi Amerika Serikat. Menurutnya, ekonomi AS sebenarnya tidak mencerminkan fundamental ekonomi Indonesia, terlebih lagi dengan kebijakan Donald Trump yang bertentangan dengan Indonesia.
Menurut Jokowi, masyarakat dan pelaku ekonomi kerap merasa panik dengan nilai tukar (kurs) Rupiah yang melemah terhadap Dolar AS. Padahal, pelemahan itu tidak akan membawa pengaruh yang signifikan terhadap perekonomian nasional.
"Artinya, bahwa kurs Rupiah dan Dolar AS semakin tidak mencerminkan fundamental ekonomi kita. Ini kita selalu arahnya ke situ (Amerika) terus, padahal bukan cerminan fundamental ekonomi kita. Melainkan semakin mencerminkan kebijakan ekonomi AS jalan sendiri jangan dibawa persepsi itu pada Dolar. Mestinya tidak seperti itu," ujar Jokowi.
"Karena ekspor kita ke AS kurang lebih 10 persen dari total ekspor kita. Jadi jangan sampai angka 10-11 persen ini menjadi mendominasi persepsi ekonomi karena Dolar dan Rupiah tadi. Kalau ukur ekonomi Indonesia pakai Dolar, nantinya ya kita akan kelihatan jelek. Padahal, negara lain juga alami hal sama. Ekonomi kita oke-oke saja. Tapi ini sekali lagi, persepsi," lanjutnya.
Jokowi menegaskan ekspor Indonesia yang lebih dominan ke negara Asia dan Eropa. Di mana China sebesar 15,5 persen, Eropa 11,4 persen, Jepang 10,7 persen. Untuk itu, Presiden Jokowi mengusulkan agar ukuran perekonomian Indonesia dapat di ukur dari negara-negara yang menjadi sasaran ekspor Indonesia.
Lebih lanjut, Jokowi mengatakan kurs Rupiah dan Dolar bukan lagi tolak ukur yang tepat. Harusnya kurs yang relevan adalah kurs Rupiah melawan mitra dagang terbesar Indonesia.
"Kalau kita masih bawa itu bisa berbahaya. Sementara kalau kita ukur ekonomi kita pakai Euro, Yuan, Renminbi, Korean Won, Poundsterling akan berbeda. Mungkin akan kelihatan jauh lebih bagus, kalau Tiongkok terbesar seharusnya Rupiah Renminbi terbesar. Kalau Jepang, ya kursnya kurs Rupiah Yen. Ini penting untuk edukasi publik, untuk tidak hanya memantau kurs Dolar AS semata. Tapi yang lebih komprehensif."
(mdk/sau)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya