Harga solar turun, tarif tiket kapal Pulau Seribu makin murah
Merdeka.com - Turunnya harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar dari Rp 6.700 menjadi Rp 5.950 pada 5 Januari 2016 membawa pengaruh terhadap moda transportasi laut. Penurunan harga solar ini diikuti turunnya harga tiket kapal penyeberangan Jakarta-Pulau Seribu.
Salah satu kru kapal tradisional Cinta Alam, Yanto mengatakan ada kemungkinan untuk menurunkan harga tiket kapal setelah adanya penurunan harga solar. Meski begitu, dia belum mengetahui besaran penurunan harga tiket.
"Kami kan disini harga tiket diatur sama Dinas Perhubungan. Jadi kalau ada penurunan harga tiket karena harga solar turun nanti pasti akan dikasih tahu sama pihak Dinas Perhubungan," kata Yanto saat ditemui merdeka.com di Pelabuhan Kali Adem, Muara Angke, Jakarta Utara, Jumat (25/12).
Yanto mengaku belum ada pemberitahuan dari Dinas Perhubungan soal penurunan harga BBM. Namun, apabila ada keputusan untuk menurunkan harga tiket, maka Dinas Perhubungan harus mengadakan pertemuan dengan seluruh kapten ojek kapal dalam memutuskan harga tiket.
"Kami kan tidak tahu berapa besarannya. Berapa turunnya (harga tiket), berapa besar pengaruh harga solar sekarang. Jadi pasti dari Dishub bakal ada pertemuan sama kapten-kapten kapal buat menentukan harga," imbuhnya.
Meski begitu, Yanto menyambut baik adanya penurunan harga BBM tersebut. Alasannya, penurunan ini akan memberikan pengaruh yang besar kepada masyarakat.
"Menurut saya baik. Tapi pemerintah bisa tegas saja, jangan sekarang naik sekarang turun," pungkas dia.
Selain itu, Dinas Perhubungan DKI Jakarta yang telah melakukan penertiban kapal-kapal di pelabuhan Kali Adem, Penjaringan, Jakarta Utara sejak Oktober lalu membuat ojek-ojek kapal penyeberangan Jakarta-Pulau Seribu menjadi lebih terkoordinasi.
"Di sini kami merasa lebih nyaman karena kemarin di pelabuhan Muara Angke yang sebelumnya kami kan campur sama kapal nelayan. Kalau disini ya hanya kapal khusus penyeberangan Pulau Seribu, lebih teratur," kata Yanto.
Keselamatan penumpang jadi lebih terjamin dengan diberikannya peralatan standar keselamatan, seperti ban pelampung. Bahkan, setiap kapal diharuskan memberikan fasilitas kursi untuk penumpang, sehingga mencegah terjadinya penumpukan penumpang (overload).
"Dulu kan penumpang duduk di lantai bahkan bisa sampai kepenuhan, sekarang sudah dihitung per kursi," imbuhnya.
Akan tetapi, pemindahan pelabuhan ini juga membawa kerugian bagi penumpang. Sebab penumpang harus menempuh jarak yang cukup kauh dari pintu masuk Pelabuhan Muara Angke menuju Pelabuhan Kali Adem.
Bukan hanya bagi wisatawan, para kru ojek kapal pun mengalami penurunan pemasukan meski tidak signifikan. Sebab, mereka harus membatasi jumlah penumpang dan harga tiket meningkat dari Rp 35.000 menjadi Rp 47.000.
"Biasanya dari pintu masuk wisatawan kan bisa jalan kaki ke pelabuhan sebelumnya. Sekarang harus menempuh jarak sekitar 500 meter untuk bisa kesini. Pendapatan kami pun juga sedikit menurun," jelas Yanto.
(mdk/sau)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya