Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Harga minyak dunia menukik ke titik terendah dalam 11 tahun

Harga minyak dunia menukik ke titik terendah dalam 11 tahun pekerja tambang minyak. shutterstock

Merdeka.com - Harga minyak dunia kembali turun sebesar 6 persen pada Rabu (Kamis pagi Indonesia) setelah persediaan produk-produk minyak AS atau bahan bakar minyak (BBM) naik. Hal ini menunjukkan berlanjutnya kelebihan pasokan di pasar.

Patokan AS, minyak mentah light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Februari, menukik USD 2,00 atau 5,6 persen, menjadi berakhir pada USD 33,97 per barel di New York Mercantile Exchange.

Itu menandai penutupan terendah WTI sejak Desember 2008, selama krisis keuangan.

Di London, minyak Brent untuk pengiriman Februari, patokan Eropa, ditutup di bawah USD 35 untuk pertama kalinya dalam lebih dari 11 tahun menjadi USD 34,23 per barel, turun USD 2,19 atau 6 persen dari penutupan Selasa. Terakhir kali harga Brent begitu rendah adalah pada Juli 2004.

Laporan mingguan Departemen Energi AS (DoE) pada Rabu menunjukkan penurunan tajam dalam persediaan minyak mentah komersial AS, sebanyak 5,1 juta barel menjadi 482,3 juta barel dalam pekan yang berakhir 1 Januari. Para ahli yang disurvei oleh Bloomberg memperkirakan sedikit kenaikan 500.000 barel.

"Apa yang tak terduga adalah peningkatan persediaan besar dalam bensin dan bahan bakar diesel. Penumpukan tingkat persediaan bensin adalah sebuah kejutan yang sangat besar," kata Andy Lipow dari Lipow Oil Associates seperti ditulis Antara, Kamis (7/1).

Stok bensin melonjak 10,6 juta barel dan sulingan, termasuk minyak diesel dan bahan bakar pemanas, naik sebesar 6,3 juta barel.

"Penambahan persediaan produk-produk minyak telah menyebabkan tekanan pada harga minyak mentah, karena hal itu berdampak pada margin penyulingan dan mereka (penyuling) mungkin pada akhirnya memangkas permintaan mereka untuk minyak mentah," kata Lipow.

Data DoE juga menunjukkan kenaikan dalam produksi minyak mentah AS, sebanyak 17.000 barel per hari menjadi 9,22 juta barel per hari, kenaikan minggu keempat berturut-turut, dan peningkatan dalam persediaan di pusat minyak Cushing di Oklahoma, titik pengiriman untuk WTI.

Kekhawatiran geopolitik menyelimuti pasar, dari krisis diplomatik antara Arab Saudi dan Iran, aliran data ekonomi China yang lemah hingga pengumuman keberhasilan uji coba bom hidrogen Korea Utara.

"Kejatuhan harga minyak Brent adalah efek berantai dari kemungkinan bahwa ketegangan geopolitik antara Arab Saudi dan Iran telah mengakhiri harapan pada kesepakatan tentang produksi minyak," analis GKFX, James Hughes. (mdk/idr)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP