Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Harga minyak anjlok, Pertamina dinilai untung besar dari jual BBM

Harga minyak anjlok, Pertamina dinilai untung besar dari jual BBM Premium. ©2015 Merdeka.com

Merdeka.com - PT Pertamina (Persero) dinilai menikmati untung besar saat harga minyak dunia anjlok hingga USD 30 per barel. Harusnya, anjloknya harga minyak ini diikuti dengan turunnya harga BBM.

"Pertamina sengaja menahan harga untuk meraup banyak keuntungan dari masyarakat," ujar Ekonom The Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Enny Sri Hartati di Jakarta, Senin (22/2).

Pada tahun lalu, Pertamina mendapatkan keuntungan besar dari penjualan BBM. Selain itu, keuntungan yang didapat dari hasil jual BBM digunakan untuk menutupi kerugian Pertamina di sektor hulu.

"Keuntungan Pertamina saat harga minyak turun drastis ini sangat luar biasa. Bahwa ada kerugian di hulu iya, namun selama ini juga tidak transparan berapa sebenarnya keuntungan yang didapat. Apakah keuntungan itu juga dirasakan rakyat? Rakyat malahan jadinya yang mensubsidi Pertamina," jelas Enny.

Sebagai gambaran, dengan harga BBM per 6 Januari 2016 sebesar Rp 7.150 per liter, keuntungan Pertamina dari jual beli BBM ini bisa mencapai sekitar Rp 30 triliun per bulan. Dengan asumsi satu barel minyak mentah sebesar USD 33, maka dengan kurs rupiah terhadap dollar sebesar Rp 13.500 per dollar, harga per barel minyak sebesar Rp 445.500. Apabila satu barel setara dengan 160 liter minyak, maka harga beli minyak mentah per liternya hanya Rp 2.785.

Untuk memproduksi minyak mentah menjadi BBM, rata-rata biaya produksinya sebesar 20 persen. Dengan angka tersebut, maka harga BBM per liter yang siap jual kira-kira sebesar Rp 3.342 per liternya.

Dengan harga jual BBM sebesar Rp 7.150 per liter dan biaya produksi hanya Rp 3.340 per liter, Pertamina bisa meraup untung hingga Rp 3.810 per liter. Dengan konsumsi BBM nasional sebanyak 1,6 juta barel yang setara dengan 256 juta liter per hari, berarti keuntungan yang diraih dari penjualan BBM mencapai sekitar Rp 976 miliar per hari atau Rp 30 triliun per bulan.

Selama ini, kata Enny, saat Pertamina untung, tidak banyak juga yang dikerjakan seperti membangun kilang. Padahal dalam jangka panjang akan membuat sektor energi lebih efisien tidak perlu mengimpor BBM secara utuh dan mungkin hanya perlu impor minyak mentah untuk diolah. Sayangnya, ketika rugi, baru Pertamina bicara ke publik.

"Kalau membangun kilang, kan keuntungan itu juga kembali ke rakyat, selama ini tidak," tandasnya.

Enny menambahkan Pertamina harusnya melaporkan ke publik terkait penjualan BBM tersebut. Menurut dia, Pertamina sangat tidak transparan. Padahal, dengan menjual harga tinggi di atas harga kewajaran, mereka bisa mendulang untung besar.

Sementara itu, Direktur ReforMiner Institute Komaidi Notonegoro mengatakan, harga minyak anjlok seharusnya membuat harga BBM jauh lebih rendah lagi. Selain itu, penurunan harga BBM akan diikuti dengan turunnya harga kebutuhan pokok.

"Penurunan harga BBM tentu saja dapat memperkuat daya beli masyarakat mendorong ekonomi. Jika memang harga BBM dirasa harus turun, maka pemerintah bisa intervensi Pertamina," kata dia.

Dengan harga minyak yang anjlok, sementara harga BBM tidak banyak berubah, maka tentu saja keuntungan yang didapat Pertamina juga masih besar. Untuk itu, pemerintah harus berhitung benar dan menganalisa tidak hanya menyelamatkan Pertamina di tengah penurunan harga minyak terutama di sisi sektor hulu.

(mdk/sau)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP