Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Harga daging ayam meroket dipicu turunnya produksi jagung

Harga daging ayam meroket dipicu turunnya produksi jagung Pedaging ayam. ©2015 Merdeka.com/andrian salam

Merdeka.com - Ketua Umum Asosiasi Industri Pengolahan Daging Indonesia, Ishana Mahisa angkat bicara terkait mahalnya harga daging ayam di beberapa daerah. Menurut Ishana, naiknya harga daging ayam dipicu berkurangnya produksi jagung dalam negeri. Hal ini kemudian berdampak pada distribusi pakan ternak lokal yang tidak lancar.

Saat ini, harga ayam dibenderol lebih dari Rp 40.000 per kilogram (kg), dan efeknya berdampak langsung pada konsumen rumah tangga maupun pada industri pengolahan daging ayam di dalam negeri.

"Sekarang industri pengolahan membeli daging ayam sebesar Rp 48.000 per kg. Padahal biasanya harga daging ayam yang dibeli industri maksimal hanya Rp 34.000 per kg," ujar Ishana Mahisa kepada wartawan di Jakarta, Senin (25/1).

Dia menilai, kenaikan harga daging ayam sangat tak wajar. Apalagi, kebutuhan industri dengan jenis ayam tanpa tulang(boneless) biasanya dipatok sekitar Rp 29.000-Rp 34.000. "Tapi sekarang industri harus beli dari pasar sekitar Rp 48.000-Rp 50.000 per kg. Jadi naiknya sekitar Rp 16.000 atau hampir 50 persen," tuturnya.

Melonjaknya harga daging ayam secara langsung ikut menurunkan produksi industri pengolahan daging ayam. Produksi harus diturunkan guna menekan lonjakan biaya bahan baku yang tinggi.

"Sekarang terpaksa kita kurangi produksinya. Karena kita tidak bisa melakukan penyesuaian harga. Kalau batasannya di atas HPP (harga pokok produksi), kita kurangi, untuk produk tertentu tidak kita dikeluarkan," katanya.

Ishana meminta pemerintah untuk membuat aturan spesial agar industri mendapatkan pasokan ayam secara khusus. Terlebih, menurutnya dalam memperoleh bahan baku industri harus bersaing dengan pangsa pasar konsumen rumah tangga.

"Karena selama ini industri dibiarkan berebut dengan pasar konsumen. Jadi pemerintah harus benahi tata niaga sistem bisnis per-unggasan. ‎Dalam setahun (kebutuhan daging ayam industri pengolahan) itu 60 ribu ton, atau setara dengan 100 ribu ton ayam hidup. Itu hanya 4 persen dari total produksi ayam di dalam negeri yang di 2015 katanya sebesar 3,18 juta ton. Jadi sebenarnya ini tidak mengganggu pasar," tutupnya. (mdk/idr)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP