Harga BBM jadi biang kerok runtuhnya tren deflasi 2015
Merdeka.com - Penaikan harga bahan bakar minyak sebanyak dua kali dalam sebulan dinilai menjadi penyebab utama inflasi Maret sebesar 0,17 persen. Ini sekaligus meruntuhkan tren deflasi sudah terbangun di dua bulan awal 2015.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suryamin mengatakan penaikan harga BBM pada 1 dan 28 Maret menyumbang inflasi sebesar 0,15 persen.
"Perubahan harga terhadap Februari sebesar 4,01 persen. Itu terjadi karena penyesuaian harga minyak mentah dunia," ujar dia dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta, Rabu (1/4).
Dia melanjutkan, harga beras dan bawang merah juga mendorong inflasi. Jika harga beras menyumbang 0,09 persen, maka kontribusi bawang merah sebesar 0,1 persen.
"Ada kenaikan di 58 kota. Kenaikan tertinggi di Gorontalo sebesar 15 persen. Sehingga harga beras ini harus dikontrol," kata dia.
Di luar itu, penaikan harga gas elpiji 12 kilogram sebesar Rp 5 ribu per tabung pada 1 Maret lalu juga turut menyumbang inflasi sebesar 0,03 persen. Kemudian, rokok kretek filter juga memberikan andil sebesar 0,02 persen.
"Karena penyesuaian tarif cukai. Kenaikan ada di 49 kota," tegas dia.
Di sisi lain, penurunan harga cabe merah, daging ayam, dan tarif listrik menjadi penghambat laju inflasi.
"Cabe merah andilnya 0,09 persen terhadap deflasi dan tarif listrik andilnya deflasi 0,01. Penurunannya terjadi rata-rata di berbagai daerah sebesar 0,54 persen," pungkas dia. (mdk/yud)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya