Hancurnya ekonomi Arab Saudi hingga 'cabut' subsidi BBM
Merdeka.com - Harga minyak dunia masih saja bertahan rendah dan bahkan sempat menyentuh titik terendah sejak 2004 silam. Minyak mentah Brent sempat menyentuh level USD 36,17 per barel atau lebih rendah dibanding 2004 silam di USD 36,20 per barel.
Analis mengatakan, penguatan nilai tukar dolar Amerika (USD) akibat kenaikan suku bunga The Fed membuat harga minyak lebih mahal di negara pengimpor yang berbeda mata uang. Hal ini kemudian berdampak pada pengurangan pembelian. Selain itu, peningkatan produksi di AS juga menekan harga minyak.
"Peningkatan jumlah rig di AS menekan harga minyak, dan ini membuktikan produsen shale oil di AS berkomitmen untuk terus meningkatkan produksi," kutipan analisa ANZ Bank seperti ditulis CNBC, Senin (21/12).
Arab Saudi sebagai salah satu produsen minyak juga ngotot membuat harga minyak terus rendah. Meski pasokan melimpah dan permintaan menurun, Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) memutuskan menentang pengurangan produksi untuk menaikkan harga.
OPEC, yang anggotanya secara bersama-sama memproduksi lebih dari sepertiga minyak dunia, saat ini memproduksi di atas target resmi dari 30 juta barel per hari, meskipun pasokan minyak mentah global yang membanjir telah terus-menerus memukul harga selama lebih dari setahun.
"Harga minyak mentah tidak diragukan lagi tertekan oleh kurangnya kesepakatan di OPEC, menandakan bahwa kelebihan pasokan akan bertahan lebih lama," kata Bernard Aw, analis pasar di IG Markets.
"WTI diperdagangkan di bawah tingkat penting USD 40 per barel dan tampaknya akan tetap di sana." ucap Sanjeev Gupta, yang mengepalai praktik minyak dan gas Asia-Pasifik di perusahaan jasa profesional EY seperti dilansir Antara.
Meski ngotot buat harga minyak rendah, ekonomi Arab Saudi sebenarnya tersiksa. (mdk/idr)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya