Gudang Bulog penuh, ini alasan pedagang enggan jual beras operasi pasar
Merdeka.com - Pasokan di gudang penyimpanan beras Bulog membengkak. Bahkan Bulog terpaksa harus meminjam gudang TNI AU dan menyewa gudang lain untuk menyimpan stok beras mereka.
Ketua Umum Koperasi Pasar Induk Beras Cipinang, Zulkifli Rasyid, menyarankan agar Bulog giatkan operasi pasar. "Kalau masalah beras Bulog itu berlebih, gudangnya kurang itu sebenaranya gampang saja kalau menurut pendapat saya. Sederhana saja jawabannya, sebagai kami pelaku pasar ya buka saja keran operasi pasar," kata Zulkifli saat dihubungi Merdeka.com, Jakarta, Rabu (19/9).
Dia mengakui, memang pedagang selama ini enggan membeli beras impor dari Bulog sebab tidak memiliki jaminan kenyamanan dalam berusaha. Dia mengungkapkan, setelah membeli stok beras impor dari Bulog pedagang biasanya akan kesulitan menjualnya kembali pada konsumen sebab rasa berasnya yang kurang enak.
"Yang kami minta cuma jaminan untuk kami nyaman kami bekerja sesudah operasi pasar disuruh buka, sesudah itu kami membeli beras ke Bulog, sesudah itu kami tak bisa jual," ujarnya.
Dia mengungkapkan, salah satu cara efektif menjual beras impor ialah dengan mengoplosnya dengan beras lokal. "Kalau mau jujur beras Vietnam dan Thailand itu berkali-kali saya ulang itu beras itu kalau tak diaduk tak laku, masalahnya beras rasanya hambar dan tawar. Jadi kami ngaduk beras itu bukan mengambil keuntungam semata, tapi untuk menciptakan rasa. Beras Vietnam dan Thailand itu tawar dan hambar, kalau diaduk dengan beras lokal kita dia mempunyai rasa," jelasnya.
Dengan demikian, lanjutnya, harga beras di pasaran pun bisa ditekan dan tidak akan mengalami lonjakan. "Jadi itulah gunanya (beras impor) untuk menekan kenaikan harga beras di lokal itu caranya begitu yang efektif gitu loh. Jadi diaduk satu-satu."
Dia mencontohkan harga beras impor yang dijual Bulog dengan rasa hambar adalah Rp 8.000 per Kg. Sementara beras medium lokal adalah Rp 9.000 per Kg. Jika keduanya dioplos bisa menghasilkan beras yang memiliki cita rasa dengan harga yang terjangkau yaitu antara Rp 8.000 dan Rp 9.000.
"Jadi intinya beras lokal kita Rp 9.000 jadinya Rp 8.500 (setelah dioplos). Rp 8.500 taruh tambah ongkos jadi Rp 8.750 atau Rp 8.800. Jadi harga beras kita di pasar induk Rp 9.000 tapi sesudah diaduk kita menjual Rp 8.800 kita sudah untung. Gunanya beras impor ini."
Kendati demikian dia mengungkapkam selama ini proses mengoplos beras tersebut dianggap ilegal dan menjadikan pedagang yang melakukannya dianggap sebagai oknum. "Kami pelaku pasar meminta jaminan surat pernyataan bahwa kami tuh tidak ada larangan untuk kami mengoplos dan mengaduk dan mengirim ke konsumen kami yang meminta."
Sebelumnya, Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso mengakui bahwa beras yang digelontorkan melalui operasi pasar tidak terserap maksimal. Sebab, penyerapannya tidak lebih dari 1.000 ton per hari.
"Kami evaluasi pasar memang stok masih banyak. Kebutuhan masyarakat akan beras masih sedikit. Pedagang kita tawarkan juga belum mau karena stoknya masih banyak," kata Budi di Kantor Perum Bulog, Jakarta.
(mdk/bim)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya