Gubernur BI: Kita Dalam Proses Mendorong Insentif Sektor Mamin, Pariwisata dan UMKM
Merdeka.com - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo meminta, perbankan untuk lebih meningkatkan kredit maupun pembiayaan terhadap korporasi. Dia menyebut, korporasi merupakan salah satu sektor yang terdampak parah pandemi Covid-19.
"Perbankan tentu saja harus berpartisipasi dalam mendukung kredit dan pembiayaan ke sektor riil atau korporasi," tuturnya dalam Seminar on Strategic Issue in G20: Exit Strategy and Scarring Effect di Jakarta, Kamis (17/2).
Selain perbankan, imbuh Perry, Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) terus berupaya membantu pemulihan dunia usaha. Antara lain dengan melahirkan sejumlah kebijakan insentif untuk mempercepat proses pemulihan.
"Tahun lalu kami (KSSK) secara bersama mendorong kebijakan (insentif) sektor properti dan otomotif. Kita (KSSK) dalam proses mendorong sektor lain, apakah makanan minuman, termasuk pariwisata dan UMKM," imbuhnya.
Kemudian, pemerintah juga terus mempercepat reformasi struktural di segala sektor. Khususnya menyangkut perizinan kegiatan investasi, tata niaga, hingga perpajakan.
"Pemerintah juga terus untuk implementasi Undang-Undang Cipta Kerja. Antara lain reformasi struktural di bidang infrastruktur, digital, dan ekonomi keuangan," tutupnya.
# Survei BI: 77,95 Persen UMKM Terdampak Pandemi Covid-19
Sebelumnya, Hasil Survei Bank Indonesia melaporkan, sebanyak 77,95 persen Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Indonesia turut terdampak negatif pandemi Covid-19 pada tahun 2021. Persoalan utama yang dialami UMKM ialah turunnya pendapatan dan peningkatan biaya operasional.
"Pandemi Covid-19 berdampak signifikan terhadap pendapatan kelompok rentan UMKM," ujar Deputi Gubernur BI Doni Primanto Joewono dalam International Seminar on Digital Financial Inclusion, Jakarta, Rabu (2/2).
Doni menyampaikan, turunnya pendapatan UMKM lantaran keterbatasan mobilitas sosial maupun ekonomi selama pandemi Covid-19 berlangsung. Alhasil, penjualan produk sektor usaha tulang punggung perekonomian nasional tersebut menurun tajam akibat lesuhnya permintaan.
Selain UMKM, sektor rumah tangga juga mengalami kehilangan pendapatan akibat pemutusan hubungan kerja selama pandemi berlangsung. Akibatnya, konsumsi sektor rumah tangga turut terpangkas seiring berkurangnya pendapatan.
"Kesulitan ekonomi ini diperburuk oleh akses terbatas ke produk dan layanan keuangan, ditambah jaring pengaman keuangan yang tidak memadai telah meningkatkan kemungkinan populasi ini jatuh lebih jauh ke dalam kemiskinan," terangnya.
Pembiayaan Korporasi Januari 2022 Turun Dibandingkan Desember 2021
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.compermintaan pembiayaan korporasi terindikasi masih tinggi pada Januari 2022, meski melambat dibandingkan bulan sebelumnya. Hal tersebut tercermin dari Saldo Bersih Tertimbang (SBT) sebesar 13,1 persen.
"Ini lebih rendah dari SBT Desember 2021 sebesar 17,4 persen," kata Direktur Eksekutif Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono di Jakarta, Kamis (17/2).
Erwin menyebut, perlambatan permintaan terutama untuk pembiayaan yang bersumber dari dana sendiri dan pembiayaan dari pinjaman atau kredit baru perbankan dalam negeri. Sedangkan, permintaan yang bersumber dari pinjaman/utang dari perusahaan induk terindikasi meningkat.
Kebutuhan pembiayaan baru oleh rumah tangga terpantau masih terbatas pada Januari 2022. Mayoritas rumah tangga memilih Bank Umum sebagai sumber utama penambahan pembiayaan, dengan jenis pembiayaan yang diajukan mayoritas berupa Kredit Multi Guna.
Sementara itu, untuk keseluruhan periode triwulan I 2022, penyaluran kredit baru diprakirakan tumbuh melambat dibandingkan triwulan sebelumnya.
(mdk/bim)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya