Gubernur BI beberkan syarat agar ekonomi Indonesia tumbuh kuat
Merdeka.com - Gubernur Bank Indonesia (BI), Agus Martowardojo menekankan pentingnya kebijakan antisipasi ekonomi yang terkoordinasi antar pemerintah. Sebab, Indonesia ke depannya masih akan menghadapi gejolak ekonomi, baik yang datang dari internal maupun eksternal.
"Di sisi eksternal, terdapat risiko besar yang perlu dimitigasi seperti melambatnya ekonomi China dan implikasi kebijakan yang ditimbulkannya terhadap kondisi pasar keuangan dunia serta merosotnya harga komoditas. Di dalam negeri, kebijakan reformasi struktural perlu terus diimplementasikan secara konsisten dan terarah sehingga dapat mendorong serta meningkatkan produktivitas daya saing ekonomi," ucap Agus di gedung Bank Indonesia, Jakarta (28/4).
Kunci menghadapi gejolak ekonomi ke depannya, menurut Agus adalah koordinasi berbagai pihak agar reformasi struktural bisa terealisasi. "Untuk itu diperlukan jalinan koordinasi antara BI dengan pemerintah maupun instansi terkait agar semuanya dapat bersinergi," Lanjutnya.
Ke depannya, Bank Indonesia akan menerapkan bauran kebijakan yang tetap diarahkan untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan.
"Dengan bauran kebijakan moneter, fiskal dan terukur, dalam sebuah kerangka koordinasi yang bersinergi, maka perekonomian Indonesia akan tumbuh kuat, berimbang dan berkesinambungan," pungkasnya.
Diberitakan sebelumnya, Bank Indonesia (BI) menilai pergolakan ekonomi Indonesia selama tahun 2015 telah memberi tiga pelajaran penting. Gubernur BI, Agus Martowardojo mengatakan, tiga pelajaran tersebut dipetik lantaran perkembangan ekonomi Indonesia masih menunjukkan arah positif meski tantangan eksternal dan domestik tidak henti-hentinya menghantam Indonesia.
Pelajaran pertama yakni kebijakan makroekonomi yang perlu diterapkan secara disiplin, hati-hati, konsisten, dan tepat waktu.
"Dari pelajaran pertama, kebijakan makroekonomi perlu diterapkan secara disiplin, hati-hati, konsisten, dan tepat waktu, baik fiskal maupun moneter. Hal itu menjadi kunci dalam menjaga stabilitas makroekonomi dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan," kata Agus dalam pidato peluncuran buku & diskusi Laporan Perekonomian Indonesia bertajuk 'Bersinergi Mengawal Stabilitas, Mewujudkan Reformasi Struktural' di Kompleks Gedung Bank Indonesia, Jakarta, Kamis (28/4).
Pelajaran kedua, lanjut Agus, perlunya dukungan sinergi kebijakan antar pemangku kebijakan. "Pelajaran kedua menunjukkan bahwa disiplin kebijakan makroekonomi tersebut tidak cukup tanpa didukung oleh sinergi kebijakan yang kuat antarpemangku kebijakan, baik Bank Indonesia, Pemerintah Pusat dan Daerah, serta otoritas terkait lainnya," imbuh Agus.
Pelajaran ketiga, yakni pentingnya reformasi struktural dan diversifikasi sumber pertumbuhan ekonomi. "Ketiga, pentingnya implementasi reformasi struktural dan diversifikasi sumber pertumbuhan ekonomi, temasuk hilirisasi, yang dapat memperkuat fondasi perekonomian, sehingga perekonomian menjadi lebih berdaya tahan (resilien) dan tumbuh secara berkelanjutan. Hal ini didasari oleh siklus perekonomian global yang terjadi sepanjang 2015," imbuh Agus.
Laporan: Firdamsyah Ramadhan
(mdk/idr)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya