Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Garuda Indonesia akui kekurangan penerbang, pilot kerap diminta potong libur

Garuda Indonesia akui kekurangan penerbang, pilot kerap diminta potong libur Direktur Operasional Garuda Indonesia Triyanto. ©2018 Merdeka.com/Wilfridus Setu Embu

Merdeka.com - Direktur Operasional Garuda Indonesia, Triyanto, mengakui bahwa minimnya jam istirahat masih menjadi kendala yang kerap didiskusikan di internal maskapai penerbangan pelat merah tersebut. Penyebabnya, perseroan kekurangan tenaga penerbang (pilot).

"Masalah jam istirahat. Kita dalam aturan 8 hari sebulan. Memang karena kita kekurangan penerbang, kita negosiasi 'boleh saya kurangi satu hari dulu' (jam istirahat)," ungkapnya di Jakarta, Selasa (23/1).

Meskipun demikian, penambahan jam kerja tersebut, akan dilakukan jika pilot yang bersangkutan bersedia untuk ditambah jam terbangnya. Selain itu, penambahan jam kerja juga diikuti kompensasi.

"Tentunya dengan kompensasi baik itu berupa waktu istirahat maupun berupa financial," tambahnya.

Dia menjelaskan, saat ini, Garuda Indonesia memiliki 1.327 pilot baik itu kapten maupun co-pilot dengan jumlah penerbangan sehari berkisar antara 630 hingga 640 penerbangan.

"Jam istirahat berkurang karena penerbang kita kurang. Perusahaan lakukan ekspansi cukup besar tapi tidak dibarengi dengan penyediaan SDM," ujarnya.

"Memang butuh waktu untuk cetak penerbang. Butuh satu tahun, kapasitas training kita juga agak terbatas. Sehingga kita negosiasi (dengan penerbang) boleh kita pinjam waktu istirahat," jelasnya.

Untuk mengatasi masalah terkait jam istirahat ini, Triyanto mengatakan sudah mengajukan permohonan tambahan pilot baru sebanyak 122 orang. "Saya sebagai Direktur Operasi minta 122 tambahan penerbang baru. Pilot baru. Kita berharap akhir 2018 ini kita sudah bisa memberikan hak pada para penerbang sesuai aturan," tandasnya.

(mdk/bim)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP