Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Gaji level manajer di JICT disebut capai Rp 1,6 M per tahun

Gaji level manajer di JICT disebut capai Rp 1,6 M per tahun Pelabuhan. ©2013 Merdeka.com/arie basuki

Merdeka.com - Rencana mogok kerja Serikat Pekerja (JICT) SP JICT pada 3-10 Agustus menuai kecaman banyak pihak. Sebab, ancaman mogok tersebut lebih didorong oleh keinginan SP agar direksi menambah bonus kerja, sementara pendapatan pekerja JICT saat ini adalah yang terbesar di pelabuhan di Indonsia, bahkan Asia.

Dokumen gaji pekerja JICT yang beredar luas di kalangan wartawan menyebutkan, gaji pekerja JICT selama 4 tahun terakhir naik rata-rata 20-25 persen setahun, lima kali lipat lebih tinggi dari pada inflasi selama periode 2012-2016.

Dikutip dari dokumen, strata gaji di JICT terbagi mulai level 4 (junior staf) hingga level 9 (senior manager). Seorang pekerja dengan level senior manager menerima penghasilan bersih Rp 1,6 miliar atau lebih dari Rp 133 juta per bulannya.

Sementara pekerja level junior staf, level terendah di JICT, seperti bagian administrasi, memperoleh penghasilan hingga Rp 600 juta setahun atau lebih dari Rp 50 juta sebulan. Seluruh pajak penghasilan pekerja JICT tersebut dibayarkan oleh perusahaan.

Selama 2009-2016, gaji karyawan JICT naik tajam. Pada 2009, seorang supervisor seperti ketua SP JICT menerima penghasilan bersih sebesar Rp 292 juta, sementara tahun lalu level ini penghasilannya sudah mencapai Rp 920 juta. Selama 7 tahun ini, penghasilan pekerja JICT naik 216 persen atau rata-rata 30 persen setahun.

Terkait aksi mogok, SP JICT meminta direksi agar membayarkan bonus tambahan untuk kinerja 2016. Padahal pada 10 Mei 2017 lalu, direksi telah membayarkan bonus sebesar Rp 47 miliar kepada pekerja JICT. Penghasilan pekerja pun di tahun 2017 ini naik 4-5 lipat daripada inflasi 2016.

Ketua Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Sularsi menilai, sikap SP JICT sangat berlebihan. Di tengah situasi ekonomi yang sedang melambat saat ini, aksi mogok yang dilakukan pekerja justru akan memperburuk situasi. Apalagi tuntutan kesejahteraan yang disuarakan pekerja sudah dibayarkan perusahaan.

"Selama ini sudut pandang pekerja selalu pengen gaji tinggi, kerja ringan. Seharusnya pekerja memikirkan gimana caranya menaikkan produktivitas perusahaan, bukan justru menghancurkan perusahaan ditengah kondisi pasar yang lagi sulit," ujar Sularsi di Jakarta, Jumat (28/7).

Sulastri mengatakan, SP JICT sering berseberangan dengan perusahaan dengan tuntutan sangat tinggi. Padahal untuk konteks JICT, dengan penghasilan ratusan, bahkan miliaran rupiah setahun, seharusnya pekerja sudah sangat bersyukur.

"Pekerja kan tidak punya saham, jika memang tidak sejalan dengan pemilik pilihannya ada dua, mengikuti aturan atau keluar. Bukan malah membuat perusahaan jadi mati, kepentingan individual seperti ini yang sangat berbahaya."

Wakil Ketua Kadin Bidang Logistik dan Pengelolaan Rantai Pasokan, Rico Rustombi, menyatakan aksi mogok kerja berpotensi menyebabkan terganggunya arus masuk dan keluar barang di pelabuhan.

"Mogok akan memberikan banyak kerugian kepada semua pihak, termasuk SP JICT sendiri. Apalagi penghasilan pekerja JICT sudah begitu luarbiasa, kok masih saja kurang." kata Rico.

(mdk/idr)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP