Faisal Basri: Rupiah Menguat Bukan Karena Usaha Pemerintah, Tapi Utang
Merdeka.com - Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS terus mengalami penguatan dalam beberapa waktu terakhir, meninggalkan posisi Rp 15.000 per USD. Hari ini Rupiah dibuka pada level Rp 14.533 per USD, melemah jika dibandingkan penutupan perdagangan kemarin sebesar Rp 14.515 per USD.
Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Faisal Basri mengatakan, penguatan rupiah dalam beberapa pekan terakhir bukan berasal dari usaha pemerintah dalam memperbaiki fundamental ekonomi Indonesia. Tetapi hal tersebut lebih kepada penambahan utang yang kian membengkak.
"Kelihatan utang pemerintah itu naik, narik utangnya lebih banyak sehingga ikut membantu nilai tukar rupiah. Jadi rupiah membaik bukan karena darah keringat kita, tapi utang," kata Faisal di Hotel Bidakara, Jakarta, Rabu (28/11).
Faisal mengatakan, bukan hanya untuk menguatkan rupiah melalui aliran masuk modal dari sisi surat berharga negara, pemerintah juga mengandalkan utang untuk melakukan rekonstruksi bencana alam yang terjadi di Palu, Sulawesi Tengah. Hal ini dianggap sebagai suatu kesalahan.
"Tahun ini pemerintah antisipasi, utang lebih banyak. Palu itu rekonstruksinya pakai utang, karena uangnya habis untuk infrastruktur. Jadi fisik lebih berharga dari manusia," jelas Faisal.
Di sisi lain, aliran modal asing yang masuk ke portfolio tersebut memang dalam jangka pendek bisa menguatkan mata uang suatu negara karena adanya aliran modal yang masuk. Meski demikian, selama defisit transaksi berjalan tidak dibenahi secara struktural, maka ruang pelemahan rupiah masih terus terbuka.
"Oleh karena itu, fenomena jangka pendek rupiah bisa menguat. Tahun depan jangka menengah, 99 persen rupiah akan melemah. Kalau bicara jangka panjang, hubungan rupiah dengan defisit transaksi berjalan itu erat sekali. Sepanjang defisi maka rupiah akan melemah. Tinggal persoalannya melemahnya berapa banyak," tandasnya.
(mdk/azz)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya