Evolusi Perdagangan Internasional Hingga Mobil Produksi RI Kuasai Pasar Mesir
Merdeka.com - Menteri Perdagangan, Muhammad Lutfi menyebut bahwa Indonesia tengah melakukan evolusi dalam strategi perdagangan internasional. Tujuan ekspor Indonesia saat ini tak lagi menembus pasar negara-negara maju. Melainkan negara-negara yang sedang berkembang atau kondisi yang sama seperti Indonesia.
"Kita sekarang punya tujuan ekspor yang baru, kalau dulu kita punya kantor perwakilan perdagangan di negara-negara maju, sekarang kita mau tutup itu di sana," kata Lutfi dalam Bincang-bincang Diaspora bersama Menteri Perdagangan, Jakarta, Sabtu (14/8) malam.
Kantor perwakilan perdagangan Indonesia di Kopenhagen, Denmark akan segera dipindahkan ke Ankara di Turki. Lalu kantor di Milan, Italia akan dipindahkan ke Karachi di Pakistan. Bukan tidak mungkin juga Indonesia akan membidik negara-negara di Afrika baik yang berbahasa Prancis atau tidak. Terobosan ini semata dilakukan untuk mengubah target perdagangan ke pasar yang lebih un-tradisional.
"Ini tren baru dan ini bukan tempat yang mudah dan kita akan menuju toko Indonesia di luar negeri," kaya dia.
Selain mengubah strategi ekspor, Indonesia saat ini tengah berevolusi dalam menjual produknya ke luar negeri. Produk-produk yang dijual Indonesia bukan lagi berupa bahan mentah atau bahan baku. Melainkan barang setengah jadi yang akan diolah kembali, sehingga memiliki nilai tambah.
"Kalau dulu tidak terbayang Indonesia jadi penjual barang industri dan industri berteknologi tinggi. Tapi sekarang kita bisa ekspor baja dan stainless steel," kata dia.
Saat ini, ekspor baja dan stainless steel Indonesia terbesar kedua setelah China. Bahkan di tahun 2020, nilai ekspor stainless steel mencapai USD 8,6 miliar yang 69 persen produknya dikirim ke China. Pertumbuhan produk ini ke China pun mencapai 92 persen pada Juni 2021 lalu.
"Bayangkan, produk berteknologi tinggi kita dijual ke China dan membunuh industri di sana," kata dia.
Ekspor Mobil
Selain itu, Indonesia saat ini menjadi negara pengekspor mobil terbesar di dunia. Salah satunya pengiriman meningkat pesat ke Filipina dengan nilai surplus mencapai USD 3,5 miliar.
"Januari 2021 kita dengan Filipina surplus dengan nilai USD 3,5 miliar karena mobil kita laku keras," kata dia.
Tak hanya itu, pasar ekspor mobil Indonesia juga merambah ke Maroko sampai Tunisia. Produk Indonesia sampai ke sana karena memiliki karakteristik yang tidak jauh dengan Indonesia. Banyak pembeli mobil pertama di sana yang dipakai untuk kegiatan sehari-hari dan tujuan wisata keluarga.
"Di Mesir 97 persen barangnya dari Indonesia, jadi ini kita merajai di sana," kata dia.
(mdk/idr)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya