ESDM dinilai terlalu percaya hitungan investor soal Blok Masela
Merdeka.com - Tenaga Ahli Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Abdul Rochim membeberkan penyebab terjadinya perseteruan antara Menko Maritim Rizal Ramli dengan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said. Hal ini disebabkan karena silang pendapat terkait hitungan pembiayaan skema pengembangan Blok Masela.
Tim Fortuga yang menjadi basis perhitungan kubu Menko Maritim berbeda dengan Inpex Corporation dan Shell yang merupakan basis perhitungan kubu Menteri ESDM.
"Fortuga hitungannya kilang laut lebih mahal dari darat. Inpex bilangnya laut murah dari darat. Hitungan mereka terbalik," ujar dia di Gedung BPPT I, Jakarta, Jumat (11/3).
Inpex dan Shell menyebutkan dibutuhkan biaya sebesar USD 14,8 miliar untuk pembangunan kilang di laut (Offshore) dengan kapasitas 7,5 juta ton LNG per tahun. Hitungan tersebut sangat berbeda jika dibandingkan dengan pembangunan kilang di laut yang ada di Australia dengan kapasitas 3,6 juta ton LNG per tahun.
"Pembangunan Offshore di Australia biayanya USD 12,6 miliar. Sementara, pembangunan Offshore di Blok Masela dengan kapasitas 7,5 juta ton LNG per tahun biayanya USD 14,8 miliar, Nah itu kenapa selisih biayanya 20 persen dengan pembangunan prelude (kilang) di Australia? Tidak masuk akal," kata dia.
Lebih lanjut, kata Rochim, hitungan tersebut malah ditelan mentah-mentah oleh Satuan Kerja Khusus Minyak dan Gas (SKK Migas) dan Kementerian ESDM. Parahnya lagi, kalkulasi tersebut dijabarkan ke Presiden Joko Widodo.
"Ini yang bikin kisruh makanya," tegas dia.
Untuk itu, Menko Rizal menentang pembangunan kilang di laut. Selain lebih murah, pembangunan kilang di darat dinilai memberi multiplier effect yang signifikan.
"Bisa dibuat petrokimia, amonia bisa dikirim ke pabrik pupuk dengan kapal sederhana saja. Ini duduk persoalannya, kembali pada hitungan yang diputar balik," pungkas dia.
(mdk/sau)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya