Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Erick Thohir soal Utang BUMN: Kalau Itu Bermanfaat Saya Rasa Tidak Salah

Erick Thohir soal Utang BUMN: Kalau Itu Bermanfaat Saya Rasa Tidak Salah Erick Thohir. ©2018 Liputan6.com/Herman Zakharia

Merdeka.com - Menteri BUMN, Erick Thohir angkat suara terkait kondisi utang BUMN. Menurut dia, utang bukanlah hal buruk, selama dimanfaatkan secara produktif.

"Kita jangan terjebak juga utang itu salah. Tetapi kalau utang itu bermanfaat dan bisa menjadikan sebuah cashflow atau sebuah pendapatan yang baik saya rasa tidak ada salah," kata dia saat ditemui di Kementerian BUMN, Jakarta, Rabu (23/10).

Dia menjelaskan, utang diperlukan dalam menjalankan usaha. Utang dipakai oleh pelaku usaha sebagai modal dalam menjalankan usaha.

"Sama lah, kalau kita liat bagaimana teman teman misalnya di UKM atau pengemudi motor, motornya sendiri kan leasing tapi dia sendiri mencari income lalu bisa dibayar itu kan tidak apa-apa," lanjut dia.

Dia menegaskan, yang menjadi persoalan yakni ketika utang yang ditarik justru dikorupsi.

"Yang bahaya kalau sudah ngutang dikorupsi, nah itu yang kita harus tuntaskan dan harus ditindaklanjuti" tandasnya.

Utang BUMN Ribuan Triliun

ribuan triliun rev1Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.com

Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mencatat 10 BUMN pemilik utang terbesar. Sepuluh BUMN tersebut adalah BRI, Mandiri, BNI, PLN, Pertamina, BTN, Taspen, Waskita Karya, Telekomunikasi dan Pupuk Indonesia.

"Terakhir laporan performa keuangan BUMN menggunakan dua titik waktu audit 2017 dan belum audit kuartal III 2018. Berhubung yang kita ajukan hari ini sediakala 10 BUMN dengan utang terbesar itu kami tampilan," ujar Deputi Bidang Restrukturisasi Kementerian BUMN, Aloysius Kiik Ro, saat rapat dengar pendapat di Gedung DPR.

Data ini, kata Aloysius, diperoleh dari Bursa Efek Indonesia (BEI). "Data ini kami peroleh dari Bursa Efek Indonesia selain perundingan dengan BUMN sekaligus kami bandingkan dengan industri sejenisnya," tuturnya.

Saat ini, utang perusahaan pelat merah telah mencapai Rp5.217 triliun. Sementara, aset BUMN juga tumbuh menjadi Rp7.718 triliun per September 2018.

"Neraca BUMN pertumbuhan aset 3 tahun terakhir Rp6.524 meningkat jadi Rp7.200 lagi, jadi Rp7.718 triliun. Gimana utang awalnya Rp2.263 jadi Rp4.830 dan kemudian kuartal-III akhir September 2018 utang BUMN meningkat level Rp5.271 triliun," ujarnya.

(mdk/idr)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP