Erick Thohir Bongkar Kunci Wujudkan Indonesia Jadi Poros Maritim Dunia
Merdeka.com - Indonesia sebagai salah satu negara kepulauan terbesar di dunia memiliki potensi menjadi poros maritim dunia. Artinya, kegiatan maritim yang melingkupi logistik dan lainnya, bakal menjadikan Indonesia sebagai pusatnya.
Namun, mengejar target ini bergantung pada kemampuan pemangku kepentingan dalam membangun semua bentuk dukungan. Misalnya dengan infrastruktur penunjang kegiatan maritim di Indonesia.
"Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar punya potensi jadi poros maritim dunia, salah satu pilar untuk ini terdapat pada kemampuan kita membangun budaya maritim, baik dalam pengelolaan sumber daya laut, infrastruktur, dan konektivitas dari maritim," kata Menteri BUMN, Erick Thohir dalam webinar di Jakarta, Selasa (23/11).
Terkait konektivitas laut, Menteri Erick menyinggung soal Tol Laut yang sejalan dengan visi Nawacita Presiden Joko Widodo. Tujuannya menghubungkan arus produksi dan distribusi dari ujung barat ke ujung timur Indonesia melalui jalur laut.
"Tentu sebagai sepertiga kekuatan ekonomi Indonesia, BUMN siap memikul amanah tersebut, demi mencapai merdeka berdaulat, salah satunya menjaga konektivitas dari Sabang sampai Merauke," katanya.
Upaya-upaya yang disebutkan Menteri Erick tersebut tak terlepas dari beberapa tantangan yang dihadapi menjelang 2022. Artinya, tantangan ini menyasar langsung kegiatan logistik di Indonesia. Pertama, adanya kerentanan rantai pasok global yang dipengaruhi oleh kurangnya kontainer, keterlambatan pengiriman dan adanya gap antara supply dan demand.
Tantangan Selanjutnya
Kedua, di sektor kebijakan perdagangan global, yaitu adanya tekanan perdagangan akibat penerapan sejumlah kebijakan seperti proteksionisme, perang dagang atau harga, dan peningkatan pajak.
"Baru saja saya rapat dengan Dubes Korea, pertama kali Korea kekurangan untuk pupuk urea untuk industri, minta kita ekspor ke sana, dan ini tentu hal-hal yang terjadi saat ini," katanya.
"supply chain, ini juga sangat memengaruhi, di mana kita diminta raw material kita dikirim ke luar negeri. Ini harus kita seimbangkan," tambah Erick.
Kemudian, poin ketiga, adanya global shock yaitu pelemahan ekonomi akibat pandemi Covid-19 yang berimbas kepada penurunan demand sejumlah komoditas. Misalnya, bahan baku industri, produk jadi industri (otomotif dan elektronik), barang impor dan ekspor, serta pertambangan.
"Tentu hal in karena tekanan tadi di atas ada global shock, harga komoditas makin tinggi, ini yang perlu kita antisipasi, jangan sampai kita tak siap sehingga kita dapat shock," kata Erick.
Reporter: Arief Rahman Hakim
Sumber: Liputan6.com
(mdk/idr)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya