Enaknya Freeport keruk emas Papua tapi tak hargai masyarakat adat
Merdeka.com - PT Freeport Indonesia sudah beroperasi puluhan tahun di Bumi Pertiwi. Tanah Papua dikeruk dan hasilnya dikirim keluar negeri. Tak hanya emas, Freeport juga menemukan kandungan tembaga dan logam lain dari setiap konsentrat yang diekspor.
PT Freeport Indonesia tercatat sudah beroperasi dari 1967 dan memegang izin Kontrak Karya (KK) dari pemerintah waktu itu. Freeport telah mengeruk kekayaan Papua berupa emas dan tembaga. Pertambangan Grasberg, Tembagapura, Timika merupakan tambang dengan kandungan emas terbesar di dunia.
Direktur Jenderal Mineral dan BatuBara (Minerba) Kementerian ESDM, Bambang Gatot Ariyono mengakui Freeport selalu dimanja pemerintah dahulu. Perusahaan asal AS tersebut keenakan mengeruk alam Indonesia dan membuat mereka terlena.
"Mereka mungkin merasa keenakan, terus terang saja saya katakan mereka merasa keenakan, dengan mendapatkan keuntungan yang mereka nikmati, fasilitas yang mereka nikmati," ujarnya.
Meski demikian, Freeport disebut tak membawa kesejahteraan untuk masyarakat Papua. Selain itu, sejak masuknya Freeport di Timika yang mendapat legalitas dari undang-undang penanaman modal asing pertama tahun 1967 di Indonesia, tidak pernah melibatkan dan menghargai hak-hak masyarakat adat dua suku besar Amungme dan Kamoro sebagai pemilik hak ulayat.
Ketika kesadaran masyarakat adat muncul dengan aksi masyarakat pada tahun 1996 di Timika yang mengorbankan nyawa manusia dan materi barulah dana Corporate Social Responsibility (CSR) yang disebut dana satu persen itu diturunkan untuk menutupi pelanggaran yang di lakukan PT Freeport kepada masyarakat sekian tahun lamanya.
Selain itu, pelanggaran-pelanggaran kerusakan lingkungan akibat Iimbah, pelanggaran HAM, konflik sosial dan rusaknya tatanan hidup masyarakat yang sampai saat ini masih dirasakan meninggalkan goresan luka di hati masyarakat adat.
"CSR atau dana satu persen yang diberikan pun tidak membuahkan kesejahteraan melainkan menimbulkan konflik internal di kalangan masyarakat akar rumput dikarenakan para elit manfaatkan untuk kepentingannya sementara masyarakat akar rumput tidak pernah merasakan dampak CRS itu sendiri hingga saat ini," katanya.
Lalu, berapa banyak emas Papua yang sudah dikeruk Freeport? (mdk/idr)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya