Eksportir sarang burung walet tak bisa cicipi keuntungan di tengah anjloknya Rupiah
Merdeka.com - Eksportir sarang burung walet mengklaim bahwa bisnisnya mengalami stagnasi akibat kondisi ekonomi global yang belum juga pulih, terutama ketegangan dagang antara Amerika Serikat dan China. Kondisi global ini juga menjadi salah satu pemicu lemahnya nilai tukar Rupiah terhadap USD.
Asisten Presiden Direktur Asosiasi eksportir sarang burung walet, Bambang Irianto menerangkan, pelemahan Rupiah terhadap USD belum memberikan angin sejuk bagi sejumlah eksportir di tanah air.
"Terlebih pada ekspor sarang burung walet yang saat ini permintaan stagnan dan cenderung mengalami penurunan," katanya di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Kamis (6/9).
Meski begitu, dia meyakini pasar potensial China sebagai negara peminat terbesar sarang burung walet Indonesia akan berlanjut di bulan November hingga Desember 2018 ini.
"Penurunan sekitar dua bulan lalu. Tapi kita lihat saja imlek mempengaruhi, biasanya mereka akan menyetok di November dan Desember," bilang dia.
Penurunan permintaan sarang burung walet ini tak hanya terjadi di China yang sedang perang dagang dengan Amerika Serikat. Tapi sejumlah negara konsumer sarang burung walet seperti Vietnam, Hong Kong dan negara lainnya juga terjadi stagnasi.
"Sama hampir seluruh pangsa pasar walet stag dan cenderung turun. Selama ini yang paling besar China, dan sangat dalam penurunannya," kata dia.
Untuk kembali meningkatkan permintaan, pihaknya melalui asosiasi dagang akan melakukan promosi ke sejumlah negara terkait manfaat konsumsi sarang burung walet.
"Dalam waktu dekat ada beberapa target promosi berupa pameran yang kami lakukan, di antaranya di Sanghai dan Beijing," ucap dia.
(mdk/idr)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya