Eks Menkeu sentil pemerintah jangan sewot dikritik soal utang
Merdeka.com - Mantan Menteri Keuangan era Kabinet Pembangunan VII, Fuad Bawazier mengatakan, pemerintah tidak boleh mengabaikan kritik masyarakat mengenai kondisi utang yang terus meningkat. Pemerintah harus memperhatikan hubungan kritik tersebut terhadap fakta di lapangan.
"Semua orang mengkritisi itu (utang) enggak usah sewot, tapi harus diperhatikan," ujar Fuad di Hotel Mercure, Jakarta, Rabu (28/3).
Fuad menjelaskan, pemerintah juga tidak boleh menjawab kritik utang dengan membandingkan kondisi utang Indonesia dengan Jepang. Sebab, Jepang memiliki basis utang yang berbeda dengan Indonesia.
"Jepang itu beda dengan Indonesia dalam segi mata uang nya Yen dan utangnya dalam negeri. Praktis utangnya kepada bank sentral dan rakyatnya. Terus bunganya juga cuma 1 persen, terkontrol, makanya kreditnya A+. Kita tidak apa-apa nya," kata Fuad.
Lebih lanjut, Fuad menjelaskan, Jepang juga memiliki neraca perdagangan yang terus surplus. Sementara, Indonesia mengalami defisit dalam beberapa bulan terakhir. "Kekayaan bersihnya negeri Jepang neraca negaranya masih surplus. Modal bersihnya masih USD 2,8 triliun. Walau utangnya gede dia itu negara kreditur," jelasnya.
"Kita sebaliknya sebagian utang dalam mata uang asing dan dipegang oleh asing. Neraca negara kita masih minus. Jadi itu kan seperti membandingkan emas sama tembaga atau besi tua," sambungnya.
Hal lain yang membuat rasio utang Indonesia tidak sesuai jika dibandingkan dengan Jepang adalah, Jepang meskipun rasio utang tinggi tetapi peringkat kreditnya tetap A+. Sementara Indonesia, memiliki rasio utang 30 persen tetapi peringkat kreditnya masih B.
"Makanya Jepang 200 persen tapi kenapa kreditnya A+ sementara kita rasio utang 30 persen tapi cuma B. Makanya jangan main politisi. Jangan main akrobat. Kalau mau main akrobat semuanya diputar-putar," tandasnya.
(mdk/azz)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya