Ekonomi Indonesia disebut lebih mengkhawatirkan dibanding Malaysia
Merdeka.com - Malaysia belakangan ini menjadi sorotan publik karena memimpin pelemahan nilai tukar negara di Asia. JPMorgan Asia Dollar Index melacak pergerakan 10 mata uang sepanjang Agustus 2015, termasuk Yen yang melemah 2,6 persen terhadap USD. Ini merupakan penurunan bulanan terbesar sejak 2012.
Ringgit Malaysia anjlok paling parah mencapai 8,7 persen terhadap USD, dan ini merupakan kinerja terburuk sejak 1998 silam. Skandal politik yang melanda Malaysia melemahkan kepercayaan investor, selain itu rendahnya harga komoditas juga menghantam Malaysia.
Lebih baik dari Ringgit Malaysia, nilai tukar Rupiah hanya turun 3,7 persen terhadap USD dan merupakan terburuk dalam 11 bulan terakhir. Sedangkan Yuan hanya anjlok 2,7 persen terhadap USD.
Namun demikian, ekonomi Indonesia tetap disebut lebih rentan dan mengkhawatirkan dibanding. Standard & Poor (S&P) menyebut Indonesia sangat rentan dengan arus modal masuk dan arus modal keluar.
"Malaysia lebih sedikit ketergantungan pada modal asing dibanding korporasi atau bank untuk mendanai pertumbuhan. Sedangkan Indonesia lebih rentan terhadap perubahan arus keluar dan arus masuk. Kami khawatir tentang cadangan devisa Indonesia," ucap Direktur S&P, Kyran Curry di Singapura seperti dilansir dari media Malaysia, Thestar, Jakarta, Selasa (8/9).
Cadangan devisa Indonesia anjlok hampir 7 persen dalam lima bulan belakang. Curry mengaku khawatir dengan otoritas moneter Jakarta baru-baru ini karena telah menghabiskan banyak cadangan devisa untuk menstabilkan volatilitas mata uang, Rupiah.
Rupiah telah melemah hingga 4,9 persen sejak akhir Juli atau masih lebih rendah dibanding penurunan Ringgit Malaysia yang mencapai 11 persen. Namun demikian, saham Indonesia dan obligasi internasional disebut jatuh lebih cepat dari Malaysia dalam tiga bulan terakhir. Pemerintah Indonesia kembali membeli obligasi negara sendiri dan mendorong BUMN untuk membeli saham untuk membendung penurunan.
"Pasar modal Malaysia jauh lebih besar dan lebih dalam," katanya.
Indeks Harga Saham Gabungan(IHSG) disebut telah turun 15 persen dalam tiga bulan terakhir.Sedangkan Malaysia hanya 10 persen saja. Obligasi mata uang lokal kedua negara juga turun, di mana Malaysia hanya turun 0,7 persen dan Indonesia jatuh 1 persen menurut Bloomberg Indeks. (mdk/idr)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya