Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Ekonom: Krisis Turki sebenarnya tidak membahayakan ekonomi dunia

Ekonom: Krisis Turki sebenarnya tidak membahayakan ekonomi dunia krisis ekonomi. shutterstock

Merdeka.com - Ekonom Universitas Gadjah Mada, Tony Prasetiantono menyebut bahwa krisis Turki sebenarnya tidak terlalu membahayakan ekonomi dunia. Oleh karena itu, pasar dunia seharusnya bisa lebih rasional dalam menghadapi ini.

"Kalau kita lihat Turki ini perekonomian yang tidak besar-besar amat ya. GDP total sekitar USD 900 miliar. Dia (Turki) tidak punya efek yang besar seperti Yunani. Yunani kan anggota Euro. Kalau Yunani krisis, dia bisa menghantam zona Eropa. Turki kan bukan, sehingga daya rusaknya tidak akan menular ke Eropa. Tidak seberat krisis Yunani yang akan berimbas ke Euro, yang GDP totalnya sekitar USD 20 triliun," ungkapnya ketika ditemui di Bellevue Suites, Jakarta, Selasa (14/8).

Dia berpandangan, krisis Turki kemudian ditanggapi secara berlebihan oleh pasar. Sebab kondisi perekonomian global sudah lebih dahulu dibuat 'mencekam' oleh perang dagang dan kenaikan suku bunga acuan The Fed.

"Kenapa Turki itu berpengaruh. Karena perekonomian dunia sedang miskin berita baik, miskin sentimen positif. Sehingga sentimen negatif yang sebenarnya tidak terlalu besar akhirnya memberikan dampak yang lebih besar, melebihi yang seharusnya. Kalau istilah kita, respon pasar dunia agak lebay terhadap Turki," katanya.

Karena itu, dia berharap, pasar global dapat segera sadar dan kembali bersikap rasional dalam menanggapi krisis Turki.

"Jadi mudah-mudahan pasar jadi lebih rasional. Saya punya harapan mudah mudahan pasar lekas menyadari bahwa Turki bukan faktor yang sangat penting untuk merusak ekonomi dunia," tandasnya.

(mdk/idr)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP