Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Ekonom: Jokowi terlalu teknis, Prabowo tak sesuai angka

Ekonom: Jokowi terlalu teknis, Prabowo tak sesuai angka Debat Capres jilid II. ©2014 merdeka.com/imam buhori

Merdeka.com - Pengamat ekonomi Universitas Gadjah Mada Tony Prasetiantono menilai dua calon presiden yakni Prabowo Subianto dan Joko Widodo tak mengerti permasalahan ekonomi. Hal ini terlihat dari penampilan keduanya saat debat calon presiden 2014.

Dia mengatakan kedua calon presiden tersebut tak mempunyai persiapan matang soal ekonomi. Catatan khusus diberikan kepada Capres Jokowi di mana perkataannya banyak menggunakan istilah teknis ekonomi yang sulit dimengerti oleh masyarakat umum.

"Saya cukup kecewa kedua calon presiden tersebut. Jokowi menggunakan istilah ekonomi yang seharusnya tak usah diucapkan karena terlalu teknis. Sedangkan, Prabowo menggunakan angka tidak sesuai dengan APBN. Jadi keduanya memang tak paham ekonomi," ujarnya di Plaza Simas, Jakarta, Senin (16/6).

Seharusnya, menurut Tony, kedua calon presiden itu lebih mematangkan diri di bidang ekonomi. Sebab, jika membicarakan persoalan ekonomi harus tepat dan benar karena mencakup angka-angka yang realistis.

"Ekonomi itu harus ada angka. Kurang persiapan, pengetahuan itu penting," jelas dia.

Sebelumnya, Institute for Development of Economic and Finance (Indef) mengevaluasi debat dua calon presiden yang digelar Komisi Pemilihan Umum, Minggu (15/6), di Jakarta. Lembaga kajian perekonomian independen itu merasa tidak puas, lantaran masing-masing capres memberikan jawaban mengawang-awang.

Direktur Indef Enny Sri Hartati melihat, baik Prabowo Subianto dan Joko Widodo sekadar mengulang gagasan yang sudah dipaparkan di visi misi tertulis. Keduanya dinilai cari aman, dengan tidak mau membahas isu-isu 'sulit' seperti strategi menggenjot penerimaan pajak, mengelola keseimbangan fiskal di era otonomi, serta menumbuhkan investasi.

Kendati demikian, Enny melihat ada sedikit keunggulan di pihak Prabowo . Calon presiden nomor urut satu itu menyinggung kebijakan menggerakkan sektor riil dan mengatasi kebocoran setoran negara dari dana penjualan hasil tambang dan minyak.

"Dari seluruh isu perekonomian yang ingin kita dengar, menurut Indef ini sedikit terjawab dengan penjelasan Pak Prabowo . Dia bilang akan mendorong sektor-sektor riil. Bagaimanapun, secara obyektif jika dilihat, Pak Prabowo lebih komprehensif dibandingkan Pak Jokowi karena ada konsep dan target yang diinginkan," kata Enny saat dihubungi merdeka.com.

Sayangnya, di sisi lain, Jokowi tidak bisa mengelaborasi semua gagasannya dalam kerangka besar mendorong kemajuan ekonomi Indonesia.

"Jokowi masih terlalu mikro. Pak Jokowi ingin mengeksploitasi kemampuan eksekusi kebijakan dan contoh-contoh konkret yang selalu jadi marketing selama ini. Karena itu, dari timses Jokowi yang harus dievaluasi jangan terus mengulang kaset yang sama, seperti berkaitan dengan kartu indonesia sehat yang jelas sudah pernah dilakukan di Jakarta," kata Enny.

Sebagai calon presiden, Jokowi wajib menjawab tantangan global. Enny khawatir pemilih dari kalangan terdidik serta dunia usaha mempertanyakan kapabilitasnya menghadapi perkembangan tata ekonomi dunia. (mdk/bim)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP