Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Efek bagi Indonesia bila Freeport berhenti beroperasi

Efek bagi Indonesia bila Freeport berhenti beroperasi freeport. ©2018 liputan6.com

Merdeka.com - Pengambilan kekuasaan atas PT Freeport oleh Inalum telah memasuki babak baru. Kabarnya mereka telah menekan Head of Agreement, dimana Inalum akan menguasai 41,64 persen saham untuk menggenapi 51 persen saham nasional.

Proses yang akan dilakukan, Inalum mengeluarkan dana sebesar USD 3,85 miliar untuk membeli hak partisipasi dari Rio Tinto di Freeport Indonesia dan 100 persen saham Freeport McMoran di PT Indocopper Investama, yang memiliki 9,36 persen saham di Freport Indonesia.

freeport

freeport ©2018 liputan6.com

Ada banyak isu dan komentar miring menyusul penandatanganan HoA tersebut. Salah satunya adalah soal saham Freeport yang dikuasai hanya 51 persen atau menyebut harusnya pemerintah menunggu sampai 2021 agar bisa menguasai tambang secara keseluruhan tanpa Freeport. Belum lagi ada pihak yang menuntut pengusiran Freeport dari Indonesia.

Sebelumnya, Wakil Presiden Jusuf Kalla sudah menjelaskan alasan pemerintah mengambil alih 51 persen karena pertimbangan teknologi.

"Kita bisa saja berusaha lebih besar, tapi masih butuhkan kerja sama. Baik kerja sama teknologi, juga kerja sama daripada pemasaran dan manajemen proyek besar ini," kata Jusuf Kalla, Jakarta Timur, Rabu, 18 Juli 2018.

Di luar itu, ada faktor-faktor lain yang harus diperhatikan apabila Freeport berhenti beroperasi. Berikut sejumlah risiko jika Freeport berhenti operasi.

Biaya Pemulihan Tambang Mahal

freeport

freeport ©2018 liputan6.com

jika Indonesia tidak memperpanjang operasi Freeport, perusahaan tambang asal AS tersebut akan berhenti melakukan penambangan block caving yang dapat mengakibatkan longsor atau penutupan lorong-lorong tambang secara permanen. Jika ini terjadi, pemerintah harus mengeluarkan biaya mahal untuk pemulihan operasional tambang.

"Metode block caving yang sedang dioperasikan saat ini di Grasberg adalah yang terumit dan tersulit di dunia," kata Head of Corporate Communication and Goverment Relation Inalum Rendy Witoelar kepada Liputan6.com beberapa waktu lalu.

Dampak sosio-ekonomi

freeport

freeport ©2018 liputan6.com

Tak hanya itu, dampak sosio-ekonomi akibat dari berhentinya operasi PTFI akan sangat besar terhadap Papua. "Sebab 45 persen GDP provinsi dan 90 persen GDP Kabupaten Mimika bersumber dari operasional PTFI," kata Rendy.

Kenapa Tidak ke Arbitrase?

freeport

freeport ©2018 liputan6.com

Rendy menjelaskan, Freeport Indonesia mempunyai interpretasi KK yang berbeda dengan pemerintah. PTFI mengakui kalau KK akan berakhir pada 2021, tapi mereka beranggapan berhak mengajukan perpanjangan dua kali 10 tahun dan pemerintah tidak akan menahan atau menunda persetujuan tersebut secara tidak wajar.

Pasal 31 ayat 2 KK: Sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang tercantum, persetujuan ini akan mempunyai jangka waktu 30 tahun sejak tanggal penandatanganan persetujuan ini dengan ketentuan bahwa perusahaan akan diberi hak untuk memohon dua kali perpanjangan masing-masing 10 tahun atas jangka waktu tersebut secara berturut- turut, dengan syarat disetujui pemerintah. Pemerintan tidak akan menahan atau menunda persetujuan tersebut secara tidak wajar.

Permohonan tersebut dari perusahaan dapat diajukan setiap saat selama jangka waktu persetujuan ini, termasuk setiap perpanjangan sebelumnya.

Rendy menjelaskan, berakhir atau tidaknya pada 2011 akan tetap menjadi perdebatan karena FCX menafsirkan harus adanya perpanjangan KK hingga 2041. Perdebatan ini akan berpotensi berakhir di arbitrase dan tidak ada jaminan 100 persen Indonesia akan menang.

"Langkah abitrase tidak diambil karena tidak ada jaminan 100 persen bahwa Indonesia akan menang karena nuansa kalimat 'menahan atau menunda persetujuan tersebut secara tidak wajar' dalam bahasa Inggris 'unreasonably withheld' mempunyai penegasan tidak boleh menahan untuk tidak memperpanjang kontrak karya," paparnya.

Memang tidak akan mudah untuk lepas sepenuhnya. Karena melihat teknologi yang dimiliki Freeport juga sangat mutakhir, sehingga akan sulit untuk melepaskan diri sepenuhnya. Selain itu dari segi SDM, Indonesia juga masih rendah. Namun terlepas dari itu semua, kita memang wajib untuk mengelola kekayaan alam kita sendiri semaksimal mungkin. Karena ini juga sudah terlalu lama bagi Freeport untuk mengekspoitasi tambang tersebut.

Sumber: Liputan6.com

(mdk/mg2)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP