Dunia hadapi ketimpangan ekonomi tertinggi sepanjang masa
Merdeka.com - Ketimpangan ekonomi di dunia saat ini semakin meningkat. Hal ini kemudian memicu kemarahan yang merebak di berbagai negara, hingga menimbulkan perpecahan di banyak tempat seperti keluarnya Inggris dari Uni Eropa.
Tingginya ketimpangan ini membuat Forum Ekonomi Dunia, yang merupakan pertemuan tahunan para pelaku ekonomi dunia membahasnya dalam pertemuan tanggal 23 hingga 26 januari 2018 yang berlangsung di Davos Swiss. Tema yang diangkat kali ini adalah "Creating a Shared Future in a Fractured World”.
Bersamaan dengan pertemuan tersebut, masyarakat sipil dari berbagai negara melakukan kampanye serentak mendesakkan komitmen pemerintah di berbagai negara dan juga pelaku usaha untuk bersama-sama menurunkan ketimpangan. Kampanye yang sama juga dilakukan oleh Aliansi Masyarakat Sipil Melawan Ketimpangan di Indonesia.
Program Manager International NGO Forum on Indonesian Development (INFID), Siti Khoirun Nimah mengatakan, data dan fakta menunjukkan saat ini dunia sedang mengalami ketimpangan tertinggi sepanjang masa.
"Hanya segelintir orang memiliki kekayaan setara dengan separuh penduduk dunia. Kondisi yang sama tidak jauh berbeda dengan Indonesia. Walaupun ketimpangan yang diukur dari rasio gini pendapatan terus menurun. Tidak demikian dengan kekayaan," kata dia dalam sebuah acara diskusi di Cikini, Selasa (24/1).
Siti menegaskan, selama lima tahun terakhir, kekayaan 50 persen penduduk di Indonesia terus turun dari 3,8 persen dari total kekayaan nasional menjadi 2,8 persen. Sementara 1 persen penduduk terkaya memiliki 45 persen dari kekayaan nasional.
"Untuk itu, segenap upaya penurunan ketimpangan haruslah berkelanjutan. Salah satunya ketimpangan dalam mendapatkan akses atas pekerjaan yang layak," ujarnya.
Siti menilai, untuk memastikan ketimpangan menurun secara berkelanjutan memang bukanlah pekerjaan yang mudah, terutama dalam hal pekerjaan. "Saat ini dunia menghadapi perubahan corak produksi yang berbasis pada kemajuan teknologi. Perubahan yang disebut dengan Revolusi Industri Keempat akan menghasilkan jenis pekerjaan baru yang menuntut keterampilan dan keahlian tertentu."
Siti menegaskan bahwa pemerintah haruslah menjamin pendidikan dan pelatihan yang memberikan keahlian dan keterampilan yang memadai beserta tersedianya lapangan kerja.
"Pada saat yang sama pertumbuhan capital 1 persen orang-orang paling kaya harus didistribusikan kepada 50 persen penduduk miskin melalui kebijakan pajak yang adil dan memastikan tidak ada lagi penghindaran dan pengemplangan pajak."
(mdk/idr)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya