Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

DPR mau hapus minuman beralkohol, pengusaha hiburan menjerit menolak

DPR mau hapus minuman beralkohol, pengusaha hiburan menjerit menolak bir. REUTERS/Tim Chong/Files

Merdeka.com - Wacana Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) untuk menyetop produksi, peredaran bahkan konsumsi minuman beralkohol di Indonesia, mendapat tentangan banyak pengusaha. Terutama bagi mereka yang berkecimpung di industri pariwisata dan hiburan.

Ketua Asosiasi Hiburan Malam Adrian Maulite melihat usulan DPR dapat membahayakan pengusaha hiburan. Lantaran tidak jelas, pihaknya menganalogikan ide tersebut laiknya makhluk halus.

"Ini 'hantu blao' baru. Ini menakutkan, walau kedengarannya enak-enak saja. Tapi tingkat pelaksanaan tidak mendukung kita," kata Adrian di Jakarta, Rabu (10/6) malam.

Pemiliki tempat hiburan Golden Crown ini mengaku, pundi-pundi keuntungan memang banyak diperoleh dari hasil penjualan minuman alkohol. Adrian berharap ide penghapusan minuman alkohol tidak benar-benar diterapkan.

"Diberhentikan jangan total, mati saya, gaji anak-anak (karyawan) bagaimana. Pastilah, hiburan malam dekat minuman mana dapat duit kita," ujarnya.

Dirinya memastikan penerapan ide tersebut berdampak buruk. Terutama bagi rekan-rekannya pemilik tempat hiburan malam lainnya. "Mangga Besar bisa mati," terangnya.

Untuk itu, pihaknya berharap DPR segera menggelar rapat dengar pendapat dan mengundang banyak stakeholder dalam pembahasan wacana penghapusan minuman alkohol.

Ketua Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA) Indonesia, Asnawi Bahar memastikan ide penghapusan alkohol bakal menggerus dunia pariwisata. Sebetulnya konsumsi terbesar minuman alkohol di Indonesia hanya di dua wilayah, Bali dan Jakarta.

"50 persen lebih ada di Bali, kedua di Jakarta sebesar 40 persen, karena di Jakarta tempat hiburan besar ya. Dan 10 persen tersebar," kata Asnawi.

Walau tempat pariwisata Indonesia luas, diakui Asnawi, justru penikmat minuman alkohol juga banyak berasal dari turis asing. "Seperti di Gilirrawangan, Giliair 90 persen itu kebanyakan bule ya, jadi tidak terlalu besar dan daerah2 lain sangat kecil," terangnya. (mdk/bim)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP