Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Ditolak banyak pihak, Bappenas ngotot JSS harus tetap dibangun

Ditolak banyak pihak, Bappenas ngotot JSS harus tetap dibangun Aktivitas Kapal Feri. ©2012 Merdeka.com/imam buhori

Merdeka.com - Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) meyakini Jembatan Selat Sunda (JSS) tetap merupakan program infrastruktur penting bagi pengembangan ekonomi Jawa-Sumatera.  Alasan penolakan dari pengusaha perkapalan dan penyeberangan dianggap tak relevan, karena kedua sektor harus dikembangkan bersamaan.

Wakil Menteri Perencanaan Pembangunan/Wakil Kepala Bappenas Lukita Dinarsyah Tuwo membenarkan, saat ini pengembangan pelabuhan di sisi Banten maupun Lampung dibutuhkan untuk memperlancar arus barang.

Tapi itu bukan alasan untuk membatalkan JSS yang sampai sekarang belum jelas kelanjutannya. Ini juga alasan pihaknya memasukkan megaproyek itu pada Masterplan Percepatan Pengembangan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI).

"Bila dikaitkan dengan pembangunan fasilitas pelabuhan penyeberangan di Sumatera-Jawa. Apakah meningkatnya koridor Jawa-Sumatera, pelabuhan yang tersedia masih bisa menampung? Ini jadi pertimbangan utama, mengapa pembangunan JSS pelu dilakukan," ujarnya di Kantor Bappenas, Jakarta, Selasa (7/4).

Sebelumnya, beberapa pihak, mulai dari ilmuwan hingga pengusaha menilai JSS belum perlu dibangun.  Sebagai negara kepulauan, Indonesia seharusnya mengedepankan strategi maritim dalam membangun negara ini.

"Seharusnya yang dilakukan adalah meningkatkan infrastruktur maritim di Selat Sunda seperti penyebarangan Merak-Bakaehuni dan merampungkan pembangunan PIB (Pelabuhan Internasional Bojonegara) di Serang Banten," kata Direktur Indonesia Maritime Institute Y Paonganan.

Senada, Wakil Ketua Umum Indonesian National Shipowners Association (INSA) Lolok Sudjatmiko menganggap proyek infrastruktur mercusuar itu hanya akan menambah beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Selain boros, JSS malah keberlangsungan sektor transportasi dan logistik melalui jalur laut. Padahal, biaya yang dibutuhkan untuk transportasi jauh lebih murah jika menggunakan kapal laut ketimbang kendaraan darat. "(Distribusi dan logistik) Masih bisa dihandle kapal laut," ungkap Lolok.

Di sisi lain, Bappenas melihat data 3 juta kendaraan roda empat saban tahun melintasi Selat Sunda akan terus bertambah di masa mendatang. Asumsi itu didasarkan pada perkembangan infrastruktur perhubungan Sumatera, misalnya Tol Trans Sumatera.

Lukita percaya, jika hanya mengandalkan sarana kapal penyeberangan sebagai moda penghubung utama, hal itu justru tidak bijak. Alasannya, bisa-bisa tidak memenuhi kebutuhan masyarakat di dua pulau utama yang ada di wilayah Barat Indonesia.

"Kita akan melihat suatu kegiatan ekonomi yang lebih besar di Sumatera. Maka pelabuhan nanti harus diperbaiki, tapi jalan ini pun harus dibangun sama-sama," tegasnya.

(mdk/noe)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP